Terlihat jelas, belakangan ini ada banyak sikap dari elit PDI Perjuangan yang berbeda satu sama lain. Bahkan, sesekali perbedaan itu dibumbui gesekan yang tak bisa disembunyikan dari publik.
Namun demikian, kata pengamat politik dari Universitas Parahyangan, Asep Warlan Yusuf, perbedaan dan gesekan di PDI Perjuangan masih dalam taraf wajar. Dalam artian, perbedaan itu bukan kristalisasi dari faksi-faksi lama yang ada di tubuh PDI Perjuangan.
"Hemat saya, faksi-faksi di PDIP tidak seperti di Golkar karena ada faktor Bu Mega yang bisa jaga soliditas partai. Artinya, faksionalisasi di PDIP tidak akan membesar karena sekarang tidak ada juga tokoh yang menonjol yang mewakili faksi itu," kata Asep kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 21/8).
PDI Perjuangan, yang semula bernama PDI, merupakan partai hasil fusi di era Orde Baru. Partai-partai itu adalah Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Partai Murba), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan Partai Katolik.
Sementara pihak menilai faksionalisasi di tubuh PDI perjuangan ini sudah kembali hidup, menguat dan mengkristal, dan akan mengemuka dalam Kongres 2015.
[ysa]
BERITA TERKAIT: