Karena lonjakan ini, ada yang percaya, Rhoma Irama menjadi faktor utama. Rhoma Irama berhasil menggaet dukungan rakyat, yang kemudian diistilahkan dengan Rhoma Effect.
Namun tidak demikian bagi Direktur Ekskutif Indo Barometer M. Qodari. Menurut Qodari, kenaikan suara PKB ini bukan karena Rhoma Irama, apalagi berdasarkan survei, elektabilitas si Raja Dangdut itu sangat kecil.
"Yang terjadi adalah NU Effect di mana suara NU kumpul kembali ke PKB," kata Qodari, sambil menekankan lagi bahwa NU merupakan ibu kandung dari PKB.
"Jumlah massa NU itu mencapai lebih 30 persen muslim seluruh Indonesia," ujarnya lagi beberapa saat lalu (Kamis, 9/4).
Dengan demikian, lanjut Qodari, kumpulnya suara NU ke PKB berkat orkestrasi Muhaimin yang mau mengalah dan membrri tempat besar pada sosok seperti Rhoma Irama dan Ahmad Dani dalam kampanye-kampanye, Rusdi Kirana (Lion Air) dengan sumber dayanya, serta Mahfud MD dan Jusuf Kalla dengan pemberitaannya.
"Dan pamungkas, tampilnya Said Aqil Siradj (Ketua PBNU) dalam iklan-iklan resmi PKB," terangnya.
Merujuk hasil analisa
exit poll Kompas, faktor Nahdhiyin memang begitu dominan dalam menaikkan elektabilitas PKB. Di
exit poll Kompas tersebut juga menunjukkn 90 persen suara PKB berasal dari Nahdliyin.
[ysa]
BERITA TERKAIT: