Konflik Jelang Pemilu Terjadi karena Keteledoran Polisi!

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Selasa, 08 April 2014, 09:55 WIB
Konflik Jelang Pemilu Terjadi karena Keteledoran Polisi<i>!</i>
ilustrasi/net
rmol news logo . Mabes Polri harus mencermati delapan daerah rawan konflik saat penghitungan suara dan pasca penghitungan suara hasil Pemilu 2014.

Demikian disampaikan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 8/4).

Daerah yang perlu diantisipasi itu  ibukota Jakarta, Aceh, Sumatera Selatan, Yogyakarta, NTB, Sulawesi Tengah, Maluku, dan Papua. Di depalan daerah ini, sejak Februari lalu, bila diakumulasi ada 16 kasus kekerasan.

Di Aceh misalnya ada 11 kasus, yang terdiri dari penembakan, pembakaran, pelemparan granat dan pengeroyokan. Di Yogyakarta ada dua kasus, pelemparan bom molotov dan perkelahian massa kampanye. Di Papua ada penembakan polisi dan TNI. Di Sumatera Selatan ada pembakaran kantor bupati dan di NTB  pembakaran gedung KPUD.

"Terjadinya konflik di delapan daerah itu tak terlepas dari keteledoran pimpinan kepolisian di daerah tersebut, yang tidak mencermati dan tidak melakukan deteksi dini maupun antisipasi dini secara maksimal.," demikian Neta. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA