"Ini juga jadi semacam prolog bagi berlangsungnya pemilu yang lancar, damai dan penuh dengan nuansa persaudaraan.Pertemuan Bu Mega dengan Cak Imin juga bermakna positif bagi terbukanya peluang koalisi PDIP dengan PKB di pilpres mendatang," kata Ketua DPP PKB, Hanif Dhakiri, beberapa saat lalu (Jumat, 28/3).
Menurut Hanif, kedua partai ini memiliki latar sejarah kebersamaan yang kuat, sejak sebelum Indonesia merdeka hingga sekarang. Pada tahun 1954 misalnya, ketika banyak kelompok politik memusuhi Bung Karno, NU justru memberikan legitimasi politik kepad Bung Karno sebagai
waliyul amri adz doruri bissyaukah, atau pemimpin pemerintahan yang berkuasa dan wajib ditaati.
"Dan politik NU hari ini adalah PKB yang bukan saja didirikan NU, tapi juga mewarisi tradisi pemikiran dan politiknya," ungkap Hanif.
Dari sudut pandang historis, ideologis, sosiologis maupun politis, Hanif menilai koalisi PDI Perjuangan dan PKB itu bukan sekedar terbuka, tapi mungkin akan jadi kebutuhan bersama sebagai sebuah bangsa. Sebab irisan di antara keduanya sangat besar.
"Apalagi hubungan pribadi Bu Mega dengan Cak Imin juga bukan semata hubungan politik. Kedua tokoh itu sudah seperti Ibu dengan anak. Jadi saya mengapresiasi pernyataan Mbak Puan Maharani dan Mas Hasto Kristiyanto sebelumnya tentang kemungkinan koalisi PDIP dan PKB," demikian Hanif.
[ysa]
BERITA TERKAIT: