Si Pitung adalah sosok pahlawan rakyat di masa lalu yang dengan gagah berani menentang pemerintahan kolonial Belanda. Jokowi sengaja menyampaikan hal pencapresan dirinya itu di rumah Si Pitung sebagai simbol perlawanan.
Pada malam harinya, Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo dalam sebuah talkshow di stasiun televisi mengatakan bahwa kriteria utama pendamping Jokowi nanti adalah mampu mengimplementasikan nilai-nilai Tri Sakti, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang budaya.
"Arti dari dua hal ini adalah, Jokowi diharapkan menjadi pelawan dari apa yang saat ini disebut sebagai neoliberalisme, sistem ekonomi yang menjadi pintu masuk dari nekolim," ujar peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP), Gede Sandra, kepada redaksi.
"Dalam Pilpres 2014, ia sebaik-baiknya harus memilih ekonom yang tangguh sebagai cawapresnya, yang memiliki rekam jejak panjang dalam melawan neoliberalisme," ujar mantan Sekjen Partai Rakyat Demokratik (PRD) ini.
Jangan sampai Jokowi, sambung Gede Sandra, memilih cawapres yang bersikap abu-abu terhadap neolib atau bahkan cawapres yang terang-terangan menjadi pendukung neoliberalisme.
"Ini (capres neolib) sangat jauh dari cita-cita Bung Karno atau bahkan si Pitung," demikian Gede Sandra.
[dem]
BERITA TERKAIT: