Di sisi lain, klaim bahwa nilai tukar rupiah menguat karena pasar mendukung Jokowi adalah bentuk inkonsistensi mengingat selama ini PDI Perjuangan kerap menyuarakan perlawanan terhadap mekanisme pasar keuangan.
Demikian disampaikan Staf Khusus Presiden Andi Arief beberapa saat lalu (Minggu, 16/3).
"Presiden terpilih nanti wajib didukung karena pilihan rakyat. Hanya saja, kepada semua capres, kepada parpol harus lebih kuat nuansa pendidikan politik dibanding propaganda. Selain itu juga yang terpenting adalah konsistensi pada ideologi yang diusung," kata Andi Arief menyindir.
"Berita rupiah menguat 100 poin terhadap dolar AS karena deklarasi Jokowi sebagai capres, saya kira sah saja disampaikan. Namun itu sekaligus memberikan penjelasan bahwa Jokowi dan partai pengusungnya ternyata pro pasar keuangan. Ini sebuah inkonsistensi dimana hal ini yang selama ini dijadikan bahan kritik oposisi (PDIP) kepada pemerintah yang berkuasa," sambung Andi Arief.
Andi Arief mengatakan, tren penguatan rupiah terhadap dolar AS terjadi sejak 14 Februari 2014. Ketika itu rupiah menguat 160 poin meninggalkan posisi psikologis 12.000 per dolar AS sehari sebelumnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: