"Melalui acara ini, diharapkan bisa mengingatkan masyarakat akan musibah yang merenggut banyak korban jiwa tersebut, sehingga bisa menjadi bahan refleksi," kata Kepala Kantor Penghubung Pemerintah Aceh di Jakarta, M. Badri Ismail, dalam keterangan beberapa saat lalu (Selasa, 24/12).
Dalam acara yang dilaksanakan dari tanggal 20-26 Desember di Mes Aceh, Jalan RP Suroso No. 14 Cikini, Jakarta ini juga digelar pameran lukisan, pembacaan puisi, dan panggung seni poros "Aceh Pesisir, Aceh Pegunungan, dan Aceh Kepulauan. Badri pun mengatakan, ada kearifan lokal berupa puisi Smong (tsunami) di kalangan masyarakat Simeulue. Sehingga meskipun gempa saat itu berpusat di Simeulue, namun korban jiwanya justru paling sedikit dibanding daerah lain yang terkena.
"Pesan dalam puisi Smong, apabila ada gempa hebat diikuti surutnya air laut, maka larilah ke pegunungan. Begitulah yang dilakukan masyarakat Simeulue sehingga, banyak masyarakat yang selamat dari musibah tsunami, 26 Desember 2004," ungkap Badri.
Untuk acara hari ini, digelar pentas puisi oleh penyair Aceh seperti Mustafa Ismail, LK Ara, Hanna Fransisca (anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta), Irmansyah, Doddi Ahmad Fawzi, Purnama K Ruslan dan sejumlah penyair Jakarta lainnya. Mereka juga akan mengekspresikan Tsunami yang telah menjadi peristiwa besar abad ini dalam bentuk puisi.
Selanjutnya tanggal 26 Desember akan digelar refleksi, dzikir dan do'a dilanjutkan gelar seni. Yopppi Smong akan menampilkan karya musik bertema smong (tsunami) yang dipadukan dengan musik dari dataran tinggi dan musik Aceh Pesisir. Acara akan diakhiri dengan penutupan pameran lukisan.
"Pada akhir pameran, rencananya lukisan akan dilelang, yaitu saat penutupan tanggal 26 Desember 2013. Sebagian hasil pelelangan akan disumbangkan untuk anak-anak yatim korban Tsunami. Khusus untuk lukisan karya pelukis senior Permadi Lyosta dilelang untuk membantu pengobatan beliau," demikian Badri.
[ysa]
BERITA TERKAIT: