"Sekarang terpulang ke dia sendiri," ujar pakar psikologi politik Hamdi Muluk kepada
Rakyat Merdeka Online (Sabtu, 29/6).
Dalam pengamatan Hamdi Muluk, sampai saat ini, Jokowi masih menampik. Dalam berbagai kesempatan, Jokowi menegaskan dia masih konsentrasi membangun Jakarta. Selain itu, dia diamankan PDIP untuk memimpin Ibukota.
"Nggak tahu kalau keadaan sudah mepet banget, rakyat meminta-minta dia, bisa gitu kan?" ungkap pengajar di Universitas Indonesia ini.
Kalau memang pada akhirnya bersedia, menurut Hamdi Muluk, Jokowi harus meminta izin ke warga Jakarta, terutama yang memilihnya pada saat Pilkada lalu. Sebagaimana pernah ia lakukan kepada warga Solo saat ia hendak maju menjadi calon gubernur.
"Kalau direlakan, apa boleh buat. Tapi ini juga kita nggak tahu. Siapa tahu nanti tiba-tiba ada tokoh sekaliber Jokowi. Muncul bintang baru. Tapi fakta hari ini ya Jokowi paling meroket elektabilitasnya," jelas Hamdi.
Selain itu, masih kata Hamdi Muluk, dukungan dari PDI Perjuangan juga harus dipertimbangkan. Karena belum tentu Jokowi bisa
nyapres kalau partai Megawati Soekarnoputri tak mendukungnya. Karena calon independen belum bisa maju di Pilpres.
"Karena dia bukan elit partai tulen. Artinya kalau PDIP tidak mau mencalonkan dia bagaimana? Kalau PDIP tidak memberi tiket, bagamana? Misalnya mereka memutuskan lebih baik Mega saja lah," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: