Bila Partai Sudah Jadi Gerombolan Demokrasi...

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Sabtu, 29 Juni 2013, 08:50 WIB
<i>Bila Partai Sudah Jadi Gerombolan Demokrasi...</i>
ilustrasi/ist
rmol news logo . Beberapa hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas pemilih belum menentukan pilihan untuk memilih partai politik mapun calon presiden 2014.

Hasil survei terakhir dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan sebanyak 31,1 persen publik belum menentukan pilihan.

Hal ini, kata pengamat politik dari Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung, Asep Warlan Yusuf, menunjukkan bahwa tingkat frustasi publik kepada partai sudah mencapai puncaknya. Dan ini seiring dengan perilaku elit partai politik yang lebih sering membuat ricuh kondisi negara dibandingkan membawa gagasan-gagasan besar untuk membangun bangsa.

"Partai malah mengeruhkan suasana demokrasi, dan tidak menjadi pilar demokrasi. Mengutip Plato, partai menjadi gerombolan demokrasi yang sangat membahayakan. Dan publik sadar betul itu," kata Asep Warlan Yusuf kepada Rakyat Merdeka Online, Jumat kemarin (28/6).

Keadaan kian diperparah, lanjut Asep, dengan perilaku elit politik yang korup. Bahkan, korupsi ini sudah dilakukan oleh partai politik yang selama ini dikesankan bersih, peduli dan profesional. Bila Partai Keadilan Sejahtera (PKS), partai yang dimaksud, sudah demikian, lebih-lebih partai lain. Ini membuat publik semakin muak.

Maka, saran Asep, tidak ada solusi lain kecuali partai segera berbenah diri. Misalnya menujukkan keseriusan dalam pemberantasan korupsi dengan melibat semua pihak yang terlibat. Di saat yang sama partai juga harus menawarkan gagasan-gagasan besar.

"Bila tidak, demokrasi dalam keadaan berbaya. Ini harus diselamatkan," demikian Asep. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA