"Jika melihat hasil survei selama ini, yang masuk tiga besar, PDIP, Golkar, dan Demokrat. Siapapun pemenangnya, harus koalisi dengan partai yang kuat," ungkap Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ul Haq kepada
Rakyat Merdeka Online (Kamis, 27/6).
Karena itu, andai PDIP memenangi pemilihan legislatif dan Joko Widodo (52) sebagai calon presiden, harus dicari cawapres dari Demokrat atau Golkar. Untuk menggandeng Demokrat tentu agak sulit. Karena Demokrat diyakini mengusung capres pemenang konvensi.
Golkar sebenarnya juga demikian, sudah memutuskan Aburizal Bakrie
running for RI 1. "Tetapi, memang perlu juga dilihat chemistry politik PDIP dengan Golkar atau PDIP dengan Demokrat," jelasnya.
Makanya, menurut Fajar, menarik untuk dikaji lebih jauh wacana Jokowi menggandeng tokoh Golkar. Apalagi pola seperti itu sudah pernah terjadi pada 2004 saat SBY berpasangan dengan Jusuf Kalla. Saat itu, capres Golkar adalah Wiranto.
Menariknya, setelah jadi Wapres, JK terpilih sebagai Ketua Umum Golkar dan mengarahkkan partainya mendukung pemerintah. "Pola ini kalau terjadi lagi, tidak terlalu mengejutkan. Artinya dalam tradisi Golkar, bukan satu larangan jika kader terbaiknya diambil partai lain. Ini jadi perpaduan unik. PDIP berlatar belakang oposisi, dan Golkar partai yang selalu di pemerintahan," tandasnya.
Soal siapa tokoh Golkar pendamping Jokowi, Jusuf Kalla (71) layak dipertimbangkan. Karena JK punya dukungan kuat di internal Golkar dan sangat matang di pemerintahan. Apalagi, Fajar menambahkan, Jokowi-JK mewakili perpaduan Jawa dan luar Jawa. "Kelemahan mereka berdua bisa ditutupi oleh kabinetnya nanti yang harus diwarnai kalangan profesional muda, birokrat tangguh yang bersih," tandas Fajar.
Wacana PDIP menggaet tokoh Golkar dipasangkan dengan Jokowi disampaikan Jeffrie Geovanie sebelumnya kalau partai Megawati itu memutuskan tidak berkoalisi dengan Partai Demokrat dan Partai Gerindra. Tujuannya, menurut Board of Advisor CSIS itu, agar memiliki dasar mengambil alih Golkar pada munas 2015 dan kemudian berkoalisi dengan PDIP di pemerintahan.
Sebagai capres dari generasi baru, Jokowi harus dipasangkan dengan figur yang lebih senior, seperti Presiden Amerika Serikat Barack Obama (52) dengan Joe Biden (71). Tokoh Golkar senior tersebut juga, sambung Jeffrie, sebaiknya mempunyai kemampuan diplomasi luar negeri yang baik, mengingat Jokowi akan fokus mengurus dalam negeri.
[zul]
BERITA TERKAIT: