Namun demikian, menurut mantan Menteri Koordinator Perekonomian Industri dan Keuangan Kwik Kian Gie saat dihubungi
Rakyat Merdeka Online petang tadi (Senin, 24/6), pemerintah tetap memiliki kelebihan uang walau harga premium tidak dinaikkan menjadi Rp 6.500.
Kwik yang juga pernah menjadi Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional membantah alasan yang selama ini digunakan pemerintah bahwa kalau harga BBM tidak dinaikkan maka APBN akan jebol karena subsidi terlalu besar.
"Kalau APBN jebol karena subsidi, itu omong kosong. Seperti sering saya katakan, sebenarnya nggak ada subsidi. Sebenarnya gampang sekali kok kalau kita tanya, subsidi itu kan karena uang yang dikeluarkan lebih
gede dari yang diterima," tekannya.
Dia mengungkapkan, selama ini pengeluaran pemerintah dalam mendapatkan premium adalah dalam pengadaan minyak mentah, biaya pengilangan, dan biaya transportasi rata-rata ke semua pompa-pompa bensin.
"Sekarang saya tanya satu saja. Minyak mentah itu dibeli oleh siapa dari siapa. Nanti dia bilang Pertamina. Pertamina beli minyak mentah dari siapa? Dari pemerintah. Dengan harga berapa? Lalu dia menyebut harga New York. Lucu kan? Itu nggak beli. Wong nggak ada harganya. Artinya tidak ada uang keluar. Itu milik rakyat," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: