"Memang ada melalui BBM grup bahwa itu tidak benar dan seterusnya," jelas Wakil Ketua DPRD Tangerang Selatan dari PKS Ruhamaben kepada
Rakyat Merdeka Online pagi ini (Kamis, 31/1).
Dirinya sendiri berharap sangkaan menerima suap kepada Lutfhi tersebut tidak benar. Apalagi dia menilai ada keganjilan dalam proses pengusutan orang nomor satu di partai dakwah tersebut.
"Memang kita sangat kencang pemberantasan korupsi. Bisa jadi ada sesuatu di balik itu. Kita tidak tahu. Tapi bagi kita
nothing to lose. Siapapun kalau terlibat secara hukum, ikuti proses secara hukum," jelasnya.
Soal bagaimana masa depan Lutfhi sebagai Presiden PKS, dia menyerahkan kepada Majelis Syuro. Majelis Syuro yang berhak memutuskan keputusan tertinggi pasti lebih tahu apa yang harus dilakukan.
"Kalau ada proses hukum, dan dinilai akan terganggu, saya kira akan dibahas. Kan sekarang Majelis Syuro mau rapat. Kita hanya mengiktui," ungkap Ketua DPD PKS Kabupaten Tangerang 2004-2010 ini.
Tapi dia membantah anggapan sementara kalangan bahwa kasus yang membelit Presiden PKS itu ibarat puncak gunung es. Dia juga menepis partainya dibiayai dari uang suap. "Saya nggak percaya itu. Kita juga kan di lapangan. Kita tahu bagaimana posisi keuangan bagi kehidupan kita," imbuhnya.
Karena itu, dia menampik pernyataan beberapa pengamat bahwa kasus yang menimpa Presiden PKS itu awal kebangkrutan partainya. "Saya kira bisa jadi malah kenaikan PKS. Ya memang berita itu bisa positif bisa negatif. Tapi saya optimis ini mungkin awal kebangkitan PKS kembali," ungkapnya.
Kok bisa? Bagaimana caranya itu jadi awal kebangkitan?
"Keseriusan (PKS) memberantas korupsi. Sementara ini hampir tidak kasus di internal PKS. Ini incaran banyak pihak. Siapapun kalau terbukti, kita terbiasa memberikan (sanksi). Tidak ada masalah bagi kita. Kalau benar akan kita bela habis-habisan. Kalau terbukti salah, saya kira mekanisme partai sudah
clear," ungkapnya sambil meminta mengakhiri pembicaraan karena ada agenda yang harus diikuti.
[zul]
BERITA TERKAIT: