Sekretaris Fraksi Hanura Saleh Husin mengganggap wajar purnawirawan jenderal TNI terjun ke dunia politik, termasuk apabila meramaikan bursa pemilihan presiden 2014 mendatang.
"Kita melihat beliau (purnawirawan jenderal) ini setelah tidak berdinas lagi di TNI, mereka adalah sipil, seperti rakyat pada umumnya," ujar Saleh kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini (Kamis, 11/10).
"Tetapi memang latar belakang mereka tidak bisa kita hindari (untuk jadi penilaian). Mereka mempunyai kelebihan di dalam memimpin dan menata organisasi, kedislipilan yang tinggi, teratur," ujar Saleh.
Meski begitu, untuk menentukan siapa yang layak memimpin negeri ini ke depan, menurut Saleh, tidak hanya melihat latar belakangnya. Tapi, apakah calon itu memang punya jiwa kepemimpinan.
"Kebetulan memang, Pak (Jenderal Purn) Wiranto (Ketua Umum DPP Hanura) mempunyai leadership yang kuat. Itu tebukti. Keberanian beliau mengambil sikap atau keputusan, walau keputusan itu tidak menguntungkan dirinya. Misalnya, beliau berhasil mengawal dan mengantarkan proses reformasi tahun 1998. Kalau beliau ambil kekuasaan, bisa. Tapi tidak mau," jelas Saleh.
"Dengan (leadership) ini, kita harapkan, (Wiranto) dapat memimpin bangsa," sambung Saleh.
Pada acara peluncuran buku karya Alumni AKABRI tahun 1970 di Balai Kartini, Jakarta, pekan lalu, Presiden SBY mengungkapkan, bahwa purnawirawan jenderal TNI patut diperhitungkan di Pilpres 2014.
Pernyataan SBY ini semakin menguatkan prediksi banyak kalangan bahwa akan terjadi perang bintang pada pilpres mendatang. Kalau pun itu terjadi, Hanura tak mempersoalkan.
"Yang nggak ada masalah. Kita serahkan kembali kepada rakyat untuk menentukan pilihan. Rakyat sudah melihat rekam jejak baik saat masih berada di militer atau sudah keluar setelah dari militer. Serahkan kepada rakyat untuk menentukan pilihannya," jawab Saleh.
Kalau terjadi perang bintang pada pilpres mendatang, Jenderal (purn) Wiranto diprediksi paling senior. Karena mantan Panglima ABRI dan Menhankam itu merupakan alumni AKABRI tahun 1968.
Saleh tak menampik kemungkinan itu. Tapi dikatakannnya lagi, yang harus jadi penilaian apakah seseorang pas untuk memimpin, bukan faktor usia, tua-muda. Tapi, apakah seseorang itu punya jiwa kepemimpinan dan visi untuk memajukan Indonesia. [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: