Beli Alutsista Saja Harus Ngutang Ke Luar Negeri

Tahun Ini Kemenhan Kucurkan Rp 57 Triliun

Rabu, 19 September 2012, 08:32 WIB
Beli Alutsista Saja Harus Ngutang Ke Luar Negeri
ilustrasi/ist
rmol news logo Dukungan anggaran pemerintah untuk memenuhi kelengkapan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI melalui APBN masih kurang. Inilah yang menyebabkan Kementerian Pertahanan harus mengandalkan pinjaman ke luar negeri.

Tiap tahunnya dari total ang­garan yang diterima Kemhan ha­nya 16 persen saja digunakan un­tuk kebutuhan alutsista. Sisanya di­alokasikan untuk belanja pe­gawai sebesar 48 persen, belanja operasional sebesar 26 persen.

Tahun ini saja Kemhan sudah mengucurkan dana sebesar Rp 57 triliun untuk alutsista, Rp 21 tri­liun di antaranya bersumber dari pinjaman luar negeri.

“Dukungan dari APBN me­mang masih kurang. Untuk me­me­nuhi alutsista hanya 16 persen. Ma­kanya, diperlukan skema yang mendukung anggaran alutsista kita, salah satunya  melalui pin­jaman luar negeri,” kata Kepala Pu­sat Komunikasi Publik Kem­han Hartind Asrin kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Dalam rencana strategisnya, Kem­han menargetkan dapat me­m­e­nuhi kebutuhan alutsista sam­pai 2014. Sayangnya, program ter­sebut juga kurang mendapat dukungan anggaran. Padahal, kata dia, alutsista merupakan ke­butuhan yang harus dipenuhi untuk menjaga dan menjadi ne­gara yang semakin berdaulat. “Renstra sudah ditagetkan bisa memenuhi sebagian kebutuhan alutsista sampai 2014,” ujarnya.

Dijelaskan, selama 2009-2014 Kemhan akan mendapatkan ang­garan Rp 150 triliun. Namun duit se­besar itu juga kurang men­cu­kupi untuk memenuhi segala ke­butuhan alutsista, karena idealnya untuk pembelian alutsista sebesar me­merlukan Rp 450 triliun. “Rp 150 triliun itu masih sepertiga dari pembelian alutsista  ideal yang kita butuhkan,” ucapnya.

Sejauh ini kerjasama perta­han­an militer Indonesia dengan ne­gara lain sudah dilakukan antara lain dengan Jerman yang me­nyup­lai Tank Leopard, kerjasama de­ngan Spanyol dalam pem­belian pesawat terbang, meriam dari Rusia, dan Korea Selatan yang mengirimkan Tank tem­purnya.

Bila tak ada aral melintang ta­hun depan Indonesia juga ber­niat melakukan kerjasama militer dengan Amerika Serikat dalam pem­belian pesawat F-16 seba­nyak 24 unit dan pesawat Balck Hawk.

“Tapi belum dapat dipastikan be­rapa anggaran yang dibu­tuh­kan, tapi itu bagian dari anggaran renstra Rp 150 triliun itu,” be­bernya.

Selain, mendatangkan alutsista dari luar negeri, kata Hartind, In­donesia juga harus berkon­tribusi untuk pembuatan peralatan pen­dukung.

Menteri Pertahanan Purnomo Yus­giantoro mengatakan, tahun ini pemerintah mendatangkan 45 unit alutsista yang sudah dise­rah­kan Markas Besar TNI Angkatan Darat, Angkatan Udara, dan Ang­katan Laut. 30 persen di anta­ra­nya digunakan untuk TNI Ang­katan Udara.

Alutsista tersebut meliputi pesawat tempur  F-16D, tiga jenis pesawat angkut berupa pesawat Her­cules C-130H, dua jenis heli­kopter, dua jenis pesawat latih, dan penangkis serangan udara. Total dana yang dikucurkan sebanyak Rp 57 triliun. sekitar Rp 21 triliun merupakan dana pinjaman luar negeri. Sedangkan sisanya berasal dari APBN.

Kemhan meneken kontrak de­ngan Brasil untuk memesan pe­sawat Super Tucano sebanyak 16 unit hingga 2014. Pesawat itu akan menggantikan OV-10 Bron­co yang dianggap sudah tak laik terbang.

Total harga pesawat Tucano itu se­besar 143 juta dolar AS atau se­kitar Rp 1,3 triliun yang meliputi har­­ga pesawat, suku cadang, ins­truk­tur, simulator, dan persen­jataan.

Selanjutnya akan dilakukan kon­trak kedua dengan pihak Bra­zil untuk mendatangkan delapan Su­per Tucano. Harga delapan unit pesawat tahap kedua ini pun tak berbeda dari kisaran 143 juta dolar AS. Sedangkan delapan Super Tucano lanjutan itu akan didatangkan pada 2014.

Pesawat itu nantinya dibe­rang­katkan dari Brasil dengan me­nem­puh rute penerbangan Brasil-Spanyol-Maroko-Italia-Yunani-Me­sir-Qatar-Oman-India-Thai­land-Indonesia. Pesawat transit dan beristirahat di sejumlah ne­gara sehingga total perjalanan men­capai 14 hari. Nanti, pesawat akan ditempatkan di Pangkalan Uda­ra Abdulrachman Saleh, Malang.

Alutsista yang terbaru, TNI Angkatan Udara mendatangkan empat unit pesawat tempur ringan Super Tucano EMB-314/A-29B dari Brazil di Pangkalan di Pang­kalan Udara Abdulrachman Sa­leh, Malang, Senin, 17 Sep­tem­ber 2012.

Pesawat Super Tucano ini ber­ke­mampuan counter insurgency ope­ration dan close air support. Pesawat mengangkut senjata ri­ngan yang berfungsi sebagai pe­sawat serang antigerilya. Di ka­wasan Asia Tenggara, Indonesia adalah negara pertama yang men­jadi pemilik dan pengguna Super Tucano.

Kenapa Nggak Utang Ke Bank Pelat Merah

Helmy Fauzi, Anggota Komisi I DPR

Sebagai negara yang besar dan terdiri dari kepulauan, su­dah sewajarnya Indonesia me­miliki alutsista yang memadai untuk menjamin keamanan dan ke­tahanan NKRI.

Namun, alasan itu lantas ti­dak  dijadikan alasan peme­rin­tah untuk utang kepada negara lain. Apalagi tidak dilakukan de­ngan seleksi ketat.

Bila hal itu tidak dilakukan, bisa dipastikan bunga pinjaman akan jauh lebih besar. Dengan de­mikian, keputusan peme­rin­tah yang seperti itu akan se­ma­kin menambah beban utang negara.

Saya mengusulkan agar pe­merintah untuk menyeleksi pembelian dan hibah alutsista. Jangan sampai Indonesia justru menggunakan alutsista bekas yang sebenarnya tidak layak pakai. Salah satu konse­kuen­si­nya akan menambah biaya pe­rawatan.

Hal lain yang tak kalah pen­ting­nya dalam pembelian alut­sista pemerintah harus men­can­tumkan kerjasama transfer tek­nologi, agar tidak hanya mem­beli, melainkan juga dapat be­lajar dari perusahaan asing yang memproduksi alutsista tersebut.

Makanya pemerintah harus melobi negara-negara yang menjalin kerjasama pertahanan militer yang memberikan pin­jaman luar negeri supaya men­da­patkan bunga yang rendah.

Sebenarnya sebelum pe­me­rintah mengandalkan utang luar negeri untuk pembelian alut­sista, mengapa tidak ber­usaha meminjam anggaran kepada bank-bank BUMN.  Bunga yang dibayarkan bisa dipastikan le­bih rendah.

Hal itu menunjukkan adanya sinergisitas antara lembaga ne­gara untuk memajukan pert­a­hanan. Jangan demi memenuhi alut­sista, kemudian keputusan pemerintah membebani negara den­gan utang luar negeri.

Lebih Memilih Kredit Ekspor

Andi Widjajanto, Pengamat Militer

Dalam dunia internasional soal pinjam meminjam untuk membeli alutsista merupakan hal yang wajar.  Sebab, me­nam­­bah dan memperbaiki sis­tem alutsista sudah menjadi ke­wajiban pemerintah. Apalagi, alutsista yang dimiliki Indo­nesia banyak yang sudah tidak layak pakai.

Ada beberapa jenis pinjaman luar negeri pembelian alutsista, yaitu pembelian tunai dari ne­gara penjual, pinjaman dari ne­gara penjual alias kredit ekspor, dan meminjam dari lembaga pin­jaman keuangan inter­na­sional. Biasanya dalam pem­belian alutsista pemerintah Indonesia lebih memilih me­kanisme kredits ekspor

Saya berharap pemerintah dan DPR saling mendukung pe­menuhan kebutuhan alutsiata dalam negeri. Selain untuk menambah kepercayaan diri angkatan militer, alutsista juga membuat segan negara-negara tetangga.

Kenaikan anggaran perta­han­an dari Rp 64 triliun menjadi Rp 77 triliun pada tahun 2013 me­na­dankan perkembangan positif dalam skema pembenahan dunia militer di Tanah Air.

Hanya saja kenaikan sebesar itu porsinya harus dibagi secara adil. Artinya, porsi untuk pe­ning­katan kesejahteraan pra­jurit dan memodernisasi alutsista ha­rus adil dan proporsional. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA