Soal itu, Sekretaris Departemen HAM DPP Partai Demokrat, Rachland Nashidik, mengatakan, setiap kader Partai Demokrat perlu mempertimbangkan ulang dengan tenang sikap dan pernyataannya sendiri di depan publik. Dia menyebut seruan mundur pada Anas itu cenderung seperti menari dalam irama gendang yang ditabuh pihak lain.
"Setiap kader perlu sekali lagi mengingat bahwa masalah yang sedang dihadapi partai tidak terjadi dalam ruang kosong yang hampa dari kepentingan dan persaingan politik," kata Rachland dalam pernyataan tertulis kepada wartawan, Kamis (2/2).
Dia melanjutkan, banyak pihak berkepentingan menjegal kehendak Dewan Pembina Partai Demokrat untuk mengatasi masalah dengan cara yang
fair dan etis, agar tidak mengakibatkan keretakan serius pada tubuh dan jiwa Partai. Kesempatan untuk mengelola problem internal partai dengan tidak mengakibatkan kerusakan serius itulah yang hendak dicuri dari Demokrat.
"Targetnya, Demokrat pecah di dalam dan dengan demikian lumpuh pada pemilu 2014. Padahal, untuk menghadapi pemilu 2014, semua kader Demokrat tanpa kecuali, baik sebagai pribadi maupun kader, berkepentingan terhadap utuhnya partai," jelasnya.
Suka atau tidak harus diakui, Anas Urbaningrum sampai hari ini bukan saksi, apalagi tersangka. Maka menurut Rachland adalah fair dan etis apabila setiap kader Demokrat menyerahkan sangkaan atas Ketua Umumnya kepada penilaian hukum yang imparsial. Daripada sibuk berkelahi sendiri, diteruskannya, sebaiknya tiap kader Demokrat memusatkan perhatian kepada upaya menyambung kembali tali yang hampir putus dari janji partai untuk memerangi korupsi dan menjadi jangkar politik bagi kebhinekaan.
"Absennya garis dan suara partai dalam menyikapi problem-problem pelanggaran etika publik itulah yang mengakibatkan kekecewaan pemilih pada Demokrat," tandasnya.
[ald]
BERITA TERKAIT: