"Sekjen Ban (Ban Ki Moon) sangat prihatin atas ketegangan yang berlanjut di sepanjang perbatasan Sudan dan Sudan Selatan, termasuk krisis minyak belakangan ini," kata Jurubicara PBB Martin Nesirky sebagaimana dikutip BBC (Sabtu, 21/1).
Konflik antar suku di Sudan Selatan bermula saat terjadi serangkaian perampokan ternak di Negara Bagian Jonglei yang kemudian memicu perang antara suku Lou Nouer dan Murle pada bulan lalu. Hal inilah yang mengakibatkan puluhan orang tewas dan puluhan ribu mengungsi.
Selain itu, perseteruan antara Sudan dan Sudan Selatan semakin meningkat. Setelah resmi berpisah pada tahun lalu, kedua negara ini masih bersengketa mengenai permasalahan yang sebenarnya telah muncul sebelum kedua negara tersebut berpisah seperti, masalah perbatasan, pembagian pendapatan dari minyak mentah dan bagaimana cara membagi utang negara.
Selain mendukung upaya Uni Afrika yang menjadi sponsor perundingan kedua negara yang akan digelar di Addis Ababa, Ethiopia, Ban Ki Moon juga meminta dunia Internasional mengatasi masalah kedua negara ini.
"Sekjen mendesak semua pihak melakukan segala upaya untuk menciptakan kesepakatan di antara kedua negara," imbuh Nesirky.
[dem]
BERITA TERKAIT: