Para pekerja mengancam akan terus melanjutkan mogok kerja jika pemerintah tetap mencabut subsidi untuk bahan bakar. Namun demikian, ketua kelompok serikat pekerja mengatakan bahwa mereka masih memberi kesempatan kepada pemerintah untuk berunding kembali.
"Ini merupakan pukulan yang menyakitkan, pertemuan ini belum menemui jalan buntu hanya saja kami belum mencapai kesepakatan, posisi kami adalah meminta mereka untuk menunda kenaikan harga minyak dan kemudian kami akan juga akan menghentikan sementara aksi mogok ini dan kembali berbicara," kata Ketua Kongres Buruh Nigeria, Abdulwaheed Omar sebagaimana dikutip
BBC (Minggu, 15/1).
Pemerintah Nigeria menerapkan kebijakan pencabutan subsidi minyak pada 1 Januari lalu dan berdampak pada kenaikan harga bahan bakar minyak hingga dua kali lipat. Harga BBM semula hanya 60 naira atau sekitar Rp 3.300 sekarang menjadi 140 naira atau Rp 7.700. Kenaikan ini sangat memukul perekonomian Nigeria yang sebagian masyarakatnya masih hidup dalam kemiskinan.
Nigeria merupakan negara penghasil minyak nomor enam terbesar di dunia. Penjualan minyak mentah di Nigeria menyumbang 80 persen pemasukan negeri itu. Namun akibat korupsi dan salah pengelolaan, Nigeria gagal untuk bisa mengolah minyak mentah mereka menjadi bahan bakar dan hingga sekarang Nigeria masih harus mengimpor bahan bakar dari negara lain.
[ysa]
BERITA TERKAIT: