Di antara masyarakat, tampak seorang lelaki tua berjenggot tipis yang sudah berwarna putih dengan memakai pakaian safari abu-abu. Terlihat mencolok, karena di dada dan punggungnya, ia menggantungkan selebaran yang bertuliskan "
Proverbs of nowadays; tokoh dan rakyat dalam peribahasa masa kini".
Lelaki tua ini adalah Dedi H. Kadir. Dia bukan warga Jakarta. Tapi, pria berumur 71 tahun berasal dari Bandung dan sampai di Bundaran HI pukul 07.00 WIB. Dedi merupakan pensiunan pegawai swasta di Hotel Indonesia, sebelum merubah nama menjadi Grand Indonesia.
Ternyata Dedi membawa semacam buku saku, yang terdapat 64 peribahasa. Kumpulan peribahasa yang itu adalah bentuk kerisauaannya sebagai anak bangsa terhadap keadaan bangsa ini. "Kumpulan peribahasa ini adalah untuk mengingatkan kepada pemerintah dan partai politik rasa keprihatinan saya terhadap bangsa ini," jelasnya kepada
Rakyat Merdeka Online seraya menyerahkan satu buah buku kumpulan peribahasa tersebut.
Dia menilai Pemerintahan SBY-Boediono gagal dalam memimpin negeri ini. Karena itu dia tidak percaya lagi terhadap pemerintah. "Gagal sih sudah jelas. Dan saya tidak percaya lagi kepada pemerintah. Namun dari kumpulan peribahasa ini mudah-mudahan ada harapan untuk lebih baik," harapnya.
Setiap peribahasa yang ia tulis ia kaitkan dengan keberadaan seorang tokoh. Misalnya;
1. Briptu Norman Kamaru.
Karena susu setitik, tawar nilai sebelanga. Artinya tak sengaja sejenak bisa memperbaiki citra Polri.
2. SBY Jadi Presidenku,
tangan mengencang, bahu memikul. Artinya kelebihan urusan, ngurus negara, ngurus rakyat, ngurus partai dan ngurusin badan.
3. Yang terhormat DPR.
Kalau tak mau dilimbur ombak, jangan berumah di tepi pantai. Artinya, sudah tahu gedungnya miring, ruangan kerja sumpek, ruangan sidangnya pun tak lagi nyaman untuk tidur dan nonton porno, kok mau-maunya jadi wakil rakyat.
Aksi Dedi tak hanya berakhir hari ini. Dia besok (Senin, 26/12) akan memberikan kumpulan peribahasanya itu KPK.
[zul]
BERITA TERKAIT: