Pertama, soal tenda. Marzuki menjelaskan, satu tenda digunakan untuk 12 orang. Dan tenda-tenda tersebut tidak ada yang menggunakan AC. Tak hanya itu, di tenda tersebut tidak tersedia karpet. Yang ada hanya kain untuk alas tikar, itu pun bawa sendiri.
"Tenda tidak ada pembatas antara pria dan wanita," kata Marzuki lewat pesan singkat yang diterima
Rakyat Merdeka Online (Minggu, 6/11).
Kedua, terkait dengan kamar mandi. Mantan Sekjen DPP Partai Demokrat ini membeberkan, masing-masing pria dan wanita disediakan 12 kamar mandi. Kalau sedang terjadi antre, satu kamar mandi pria diantre 4 orang; sedangkan satu kamar mandi wanita diantre 8-10 orang. Untungnya, air relatif lancar.
"Ketiga, (soal) makan. Sistem prasmanan untuk satu kloter 450 orang, antrean cukup panjang, lansia tetap harus antre. Harusnya dibagi pakai nasi kotak. Jadi tidak perlu antre dan panas-panasan," katanya menawarkan solusi.
Hal selanjutnya yang dipantau Marzuki Alie adalah soal angkutan dari Mekah ke Arafah. Sebagian jamaah terpaksa harus berdiri. Tak hanya itu, terdapat bis yang tidak ber-AC karena AC-nya nya rusak.
"Kelima, (soal) kesehatan. Tim lebih banyak menunggu laporan yang sakit, tidak ada cek berkala. Ada satu jemaah lansia yang sakit dan sepertinnya sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan ibadahnya. Panitia kesehatan dan panitia yang lain kurang perduli," jelas Marzuki Alie.
Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat ini tampaknya betul-betul memperhatikan seluruh kondisi jamaah haji Indonesia. Bagaimana tidak, tenda di depan dan samping tenda DKI Jakarta yang roboh diterpa angin termasuk tenda makan, juga tak luput dari perhatiannya.
"Ada sekitar 30 tenda yang roboh. Yang roboh tenda Palembang Pusri persis di samping kami, karena kami di paling depan sebelahan. Sekarang situasi sedang sibuk nunggu membetulkan tenda-tenda yang roboh dibantu polisi-polisi," demikian Marzuki.
[zul]
BERITA TERKAIT: