Tidak terkecuali di hadapan ratusan santri dan santriwati Pondok Pesantren Bustanul Ulum Al-Ghozali, Wuluhan, Jember, Jawa Timur pimpinan KH Moh Sodiq.
Sebelum memaparkan panjang lebar keberhasilan ekonomi pemerintahan SBY, Syarif Hasan sempat menanggapi kritik dari KH Moh Sodiq yang tadi menyoal banyaknya menteri kabinet, di mata ulama Jember itu, yang berkhianat pada komitmen SBY memberantas wabah korupsi.
"Insya Allah, dari tingkat menteri bahkan sampai bupati, tidak berkhianat. Apalagi kalau di bawah bimbingan para santri dan santriwati," ujar Syarif Hassan di gedung Serba Guna Putri, Pondok Pesantren Bustanul Ulum Al-Ghozali, Wuluhan, Jember, Jawa Timur (Jumat, 9/9).
Kemudian, setengah berceramah, Syarif Hassan mengajak masyarakat luas agar tidak lupa bersyukur atas semua rezeki yang diberikan Allah kepada bangsa, khususnya selama SBY memerintah Indonesia.
"Apabila engkau diberikan rahmat dan rizki maka wajib mensyukuri," katanya.
Maksudnya, jika mem-flash back ke enam tahun lalu, kondisi perekonomian Indonesia sudah jauh lebih baik dan mencapai pertumbuhan yang signifikan.
"Mengapa saya pakai patokan enam tahun lalu? Karena saat itulah pertama kali rakyat memberi amanah pada presiden kita. Kita harus lihat bagaimana kondisi saat itu. Kita bandingkan dengan situasi sekarang. Itulah gunanya kita evaluasi," kata petinggi Partai Demokrat itu.
Pada saat SBY menjabat, pertumbuhan ekonomi Indonesia baru mencapai 4,3 persen. Uang negara yang dianggarkan untuk rakyat ke semua provinsi sampai kabupaten menyentuh Rp 430 trliun.
"Kalau sekarang terdapat pertumbuhan uang untuk rakyat Rp 1300 trliun. Insya Allah tahun depan mencapai lebih dari Rp1.400 trliun. Allah memberi rahmat di bawah kepemimpinan SBY. Ini harus kita syukuri. Karena rakyat sudah bekerja keras bersama pimpinan nasional dan ulamanya," paparnya.
Akibat belanja pemerintah itu, lanjut Syarif, pertumbuhan ekonomi sudah tiba di angka 6,5 persen. Bahkan pada 2009, di saat semua negara maju pertumbuhannya negatif, Indonesia mengalami pertumbuhan positif 4,5 persen.
"Jadi jangan ada yang katakan pembangunan Indonesia ini sudah mengacu ke negara yang gagal. Mereka ini tak melihat fakta dan rezeki yang diberikan Allah pada rakyat Indonesia," kata menteri.
Dia juga mengakui salut atas pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang melebihi pertumbuhan nasional. "Kenapa bagus? Ini disebabkan banyaknya ponpes yang memberikan kontribusi positif di Jawa Timur," tegasnya.
Secara khusus dia menyampaikan jaminan ke 52, 7 juta pelaku usaha kecil dan menengah di seluruh indonesia bahwa pemerintah akan terus memperkuat fasilitas dan pelayanannya bagi masyarakat.
"Sekali lagi saya tegaskan para pelaku usaha mikro yang minta kredit maksimal 20 juta tidak diperlukan jaminan. Jadi kalau ada bank pemerintah minta jaminan atau agunan untuk nilai 20 juta lapor ke bupati dan menteri. Itu jaminan pemerintah, tapi ya usahanya harus ada," janji Syarif.
Dia melanjutkan, masih banyak program kerakyatan yang akan dilakukan pemerintah. Maka itu dia meminta kesadaran masyarakat agar kreatifitas dan inovasi harus diprioritaskan melalui wirausaha. Paradigma pencari kerja harus diubah menjadi pembuka lapangan kerja. Secara khusus dia mengharapkan hal itu kepada semua lulusan pesantren.
"Saya minta diubah mindsetnya bahwa setelah selesaikan pendidikan, jangan lagi cari pekerjaan tapi buka lapangan pekerjaan. Bekalnya, ilmu pengetahuan dunia dan akhirat," tegas dia.
[ysa]