Hal itu dikatakan pengamat politik Saleh Partaonan Daulay kepada
Rakyat Merdeka Online siang ini.
"Itu sama-sama untuk kepentingan diri sendiri. Katakan misalnya, partai yang menginginkan angka ambang batas tinggi, dia mau menganulir partai-partai kecil dan menengah. Sementara yang menginginkan kecil, dia juga memikirkan keselamatan partainya, agar dia bisa kembali masuk ke parlemen," kata pengajar di FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta ini.
Meski, Saleh mengakui bahwa ada sebagian argumen kedua belah pihak yang bisa dimengerti. Partai besar, Demokrat, Golkar, PDIP, menginginkan ambang batas dinaikkan untuk menyederhanakan partai dan memaksimalkan sistem presidensial. Sedangkan partai kecil dan partai tengah tidak ingin suara masyarakat hilang dan tidak terwakili di DPR.
Tapi, yang membuat Saleh kesal adalah, polemik soal angka ambang batas ini telah menyita energi dan perhatian DPR cukup besar, apalagi sudah memakan waktu cukup lama, tapi tidak ada hasil.
"DPR ini terlalu banyak memikirkan pribadi partai masing-masing, bukan hanya pada sisi ambang batas, termasuk Panja Mafia Pemilu dan lain-lain. Itu semua lebih cenderung kepada masing-masing partai itu. Bukan memikirkan bangsa ini. Ini kan perlu dipertanyakan. Anggota DPR ini apakah mewakili rakyat atau partai politik," katanya.
Agar perdebatan ini tidak berlarut dan menghabiskan energi, Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah ini mengimbau kepada semua partai untuk menurunkan ego masing-masing. Karena masih banyak hal yang harus dikerjakan oleh DPR.
"Jangan gara-gara ini banyak sekali yang terabaikan," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: