Hal ini diketahui dalam Rapat Dengar Pendapat antara PT Sarana Karya (Saka) dan Komisi VI DPR, di Gedung DPR, JaÂkarta, Senin lalu.
Dalam risalah RDP PT Saka yang dibacakan langsung DirekÂtur Utamanya Syamsul Qamar, terungkap selama 3 tahun terakhir akumulasi kerugian Saka sampai akhir Desember 2010 mencapai Rp 17,158 miliar.
Pada 2008, akumulasi keruÂgiannya tercatat Rp 16,6 miliar. Tahun 2009 mengalami peningÂkaÂtan menjadi Rp 16,7 miliar. PaÂda 2010 kerugiannya kembali menanjak menjadi Rp 17 miliar.
“Itu kerugian kumulatif sejak 1987. Penjualannya lebih sedikit dari kapasitas produksi, jadi selalu di bawah break even point,†kata Syamsul Qamar.
Dijelaskan, selama 2008-2011 Saka melakukan upaya peningÂkatan kinerja perusahaan. MisalÂnya, pada 10 April 2008 menanÂdaÂtangani Kerja sama Operasi (KSO) dengan PT Timah untuk jangka waktu 5 tahun, dengan pembagian keuntungan 50 persen, 50 persen.
Semua kegiatan KSO yang dilakukan Timah-Saka, penÂdanaannya berasal dari PT Timah sebesar Rp 31,7 miliar. SedangÂkan kontribusi Saka, berupa Izin Usaha Pertambangan (IUP) aspal alam di Lawele dan Kabungka, pelabuhan, peralatan produksi, perÂkantoran, dan seluruh karyaÂwan yang dipekerjakan pada KSO Timah-Saka.
“Meskipun sudah melakukan KSO, kondisi perusahaan tidak juga membaik. Sampai akhir 2010, KSO Timah-Saka masih meÂngalami kerugian akibat target penÂjualan tidak tercapai. Oleh kaÂrena itu, April 2010 kegiatan proÂduksi dihentikan sementara. Sejak 1 Agustus 2010 seluruh karyawan perusahaan dikemÂbalikan pada Sarana Karya,†jelasnya.
Diungkapkan, selama ini permasalahan yang dihadapi Saka datang dari internal maupun eksternal. Di antaranya, usia karyawan sudah non produktif, adanya peraturan daerah yang melarang perdagaÂngan antar pulau dan ekspor aspal curah seperti Perda Kabupaten Buton Nomor 11 Tahun 2007, dan pengadaan sarana prasarana dan peralatan produksi sangat minim, sedangkan teknologi baru untuk pengolahan Asbuton sangat terÂbatas. Demikian juga soal perbaiÂkan mutu dan diseminasi Asbuton memerlukan biaya cukup besar.
“Diperlukan reinvestasi cukup besar, terutama untuk pengadaan alat produksi baru, mengingat alat produksi sebagian besar telah rusak berat. Selain itu akumulasi kerugian sampai akhir Desember 2010 yang mencapai Rp 17 miliar dan besarnya kewajiban perusaÂhaan keapda karyawan, pemeÂrinÂtah daerah dan pusat membuat perusahaan sulit berkembang,†ujarnya.
Meski demikian, kata dia, Saka tetap berusaha bangkit. Untuk mencapai target rencana kerja perusahaan sampai 2014, saat ini Saka telah melakukan addendum atau restatement terhadap Surat Perjanjian KSO dengan Timah, sehubungan dengan dihentiÂkanÂnya kegiatan KSO Timah-Saka, dan rencana pengembalian dana Timah sebesar Rp 32,7 miliar.
Terkait kerja sama, Saka melakukan penandatanganan Surat Perjanjian Jual Beli AsbuÂton Kabungka Curah dengan PT Integrito Glonex Pratama untuk jangka waktu 6 bulan untuk diekspor ke China sebanyak 56 ribu MT. Untuk pengapalan pertama 8 ribu MT akan dilakuÂkan pertengahan Maret 2011.
“Kami juga berencana kerja sama dengan beberapa perusaÂhaan lain di Pulau Buton antara lain, dengan PT Timah, PT Wijaya Karya dan PT Aston Adhi Jaya,†terangnya.
Kemudian hal serupa dilakuÂkan dengan PT Integrito Glonex Pratama untuk jangka 5 tahun untuk bisa diekspor ke China sebanyak 50 ribu tin per bulan.
Syamsul menargetkan, total produksi pada 2012 sebanyak 210 ribu ton, lalu 2013 sebanyak 193 ribu ton, dan 2014 sebanyak 100 ribu ton.
Pemerintah juga memasukkan Sarana Karya dalam program privatisasi tahun ini. Saham yang akan dilepas maksimal 100 perÂsen melalui metode strategic sales. Privatisasi tersebut telah menÂdapat persetujuan dari KoÂmite Privatisasi pada 2010, dan saat ini masih menunggu jadwal pembahasan dengan DPR.
Sarana Karya juga direncanaÂkan akan diakuisisi Timah pada tahun ini. Namun, menurut SyamÂsul, sejauh ini masih dalam proÂses pembicaraan dan belum ada kesepakatan resmi. Jika nantinya akuisisi jadi dilakukan, kemudian dibangun pabrik peÂngoÂlahan aspal alam, diprediksi akan membutuhkan dana sekitar Rp 400-500 miliar. “Namun kami belum tahu kapan akan direalisaÂsikan,†katanya.
Terkait wacana akusisi ini, Deputi Restrukturisasi dan PerenÂcanaan Strategis KemenÂterian BUMN, Pandu Djajanto menyaÂtakan, akusisi itu cuma salah satu opsi dari privatisasi Saka, guna mengaÂtasi masalah utama peruÂsahaan tersebut yang kesulitan mengembangkan produk. “Itu salah satu alternatif untuk mengaÂkusisi dengan sesama BUMN,†katanya.
Kalau Merugi Terus Lebih Baik Dijual
Naldy Nazar Haroen, Ketua Umum BUMN Watch
Ketua Umum BUMN Watch, Naldy Nazar Haroen, menilai, privatisasi dan penjualan saham merupakan solusi jitu untuk kelangsungan bisnis PT Sarana Karya.
“Kalau terus mengalami kerugian dan menjadi beban bagi negara lebih baik dijual saja,†katanya, kemarin.
Menurutnya, pemerintah harus lebih intensif menjaga BUMN-BUMN industri strateÂgis yang menyangkut hajat hidup orang banyak, karena selama ini dinilai tidak serius.
“BUMN kita tidak maju, dan selalu kalah bersaing dengan perusahaan swasta. Akibatnya, tidak mempunyai pasar yang jelas. Karena itu, pemerintah harus menghentikan pihak-pihak yang melakukan monoÂpoli terhadap industri strategis kita,†cetusnya.
BUMN Sakit Harusnya Sering Diperhatikan
Rudy Sukendra Sindapati, Anggota Komisi VI DPR
Pemerintah sebaiknya memikirkan kembali rencanaÂnya untuk melakukan privaÂtisasi terhadap BUMN yang berÂmasalah, seperti PT Sarana Karya.
Diperlukan kajian dan audit yang dalam untuk mencari tahu dan menganalisa penyebab dari keugian yang dialami BUMN.
“Bisa jadi, penyebabnya, pemerintah kurang memperÂhatiÂkan dan membina BUMN sakit. Sebaiknya Jangan terbuÂru-buru,†kata Anggota Komisi VI DPR Rudy Sukendra SinÂdapati, kemarin.
Anggota Fraksi PAN ini menyeÂsalkan, tindakan pemeÂrintah dalam mengatasi BUMN sakit yang cenderung melakuÂkan penjualan saham-saham, tanpa melakukan perbaikan sebeÂlumnya. “Kalau seperti ini terus, kekayaan kita akan habis terjual,†ucapnya.
Diakuinya, sampai saat ini Komisi VI DPR belum menyeÂpaÂkati terhadap rencana priÂvatisasi dan penjualan saham-saham PT Sarana Karya, Kertas Padalarang, dan Primissima.
“Kalau benar akan dijual atau diprivatisasi, dengan kondisi Sarana Karya yang selalu merugi, pasti akan sangat murah. Kita masih menunggu data-data lebih lanjut dari KeÂmenterian BUMN untuk berÂgeÂrak dan memutuskan keÂlanÂjutannya,†tandasnya.
Mengeksplorasi Batuan Aspal Alam Di Pulau Buton
Sekilas PT Sarana Karya
PT Sarana Karya merupakan salah satu industri pertamÂbangan Aspal Buton yang dibentuk berdasarkan PP NoÂmor I Tahun 1984 dengan akte notaris Imas Fatimah Nomor 32 tahun 1984.
Bisnis yang dilakukan adalah mengadakan penyeÂliÂdikan, eksplorasi, eksploiÂtasi, pengolahan batuan aspal alam di Pulau Buton. PerÂdagangan hasil produksi Aspal tersebut dan mengemÂbangkan jaÂringan distribusi untuk pasar dalam maupun luar negeri. Mengangkut hasil produksi Aspal untuk dalÂam dan luar negeri. Jasa pelabuhan. Kepemilikan sahamnya 100 persen dikuasai negara.
Produksi PT Sarana Karya Berupa Aspal Buton Curah Lawele, Aspal Buton Halus, dan Aspal Buton Granular.
Dalam menjalankan bisnisÂnya PT Sarana Karya memiliki tujuan menyediaÂkan Aspal Olahan yang berÂmutu tinggi dan siap pakai untuk keperluan Konstruksi jalan dan lainnya yang berÂkaitan dengan pemakaian Aspal.
Untuk mewujudkan tujuan itu PT Sarana Karya melaÂkukan inovasi pada sumÂberÂdaya alam aspal Buton dan memanfaatkan sebesar-besarnya produk-produk aspal Buton untuk Kontruksi jalan. Mengembangkan tekÂnoÂlogi produk-produk utama dan sampingan untuk berbaÂgai tujuan lainnya. MelaÂkukan semua kegiatan berÂorientasi pada pelestarian lingÂkungan dengan pengenÂdalian dampak lingkungan, pemberdayaan serta kesejahÂteraan masyarakat sekitarÂnya. [RM]
< SEBELUMNYA
BERIKUTNYA >
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.