Diduga peristiwa pengeroyokan itu terjadi sekitar pukul 23.30 WIB akhir pekan lalu (Jumat , 4/3) karena masalah pribadi. Salah satu isu yang dipergunjingkan warga adalah persoalan rumah tangga Rusdi dengan istrinya. Namun, belum jelas istri yang mana terlibat cekcok dengan Rusdi. Sebab, Rusdi mempunyai istri lebih dari satu.
“Dia punya istri muda yang sering meminta dibelikan sesuatu. Jadi pengeroyokan itu memang murni karena masalah pribadi,†ujar seorang warga Karang Mendapo kepada wartawan, Rabu (9/3).
Sebelumnya beredar kabar, karena memiliki istri lebih dari satu, Rusdi diduga menghabiskan dana desa sebesar Rp 169 juta. Dana itu digunakan untuk keperluan pribadi dan salah satu istrinya, seperti biaya belanja rumah, membeli mobil, dan sejumlah biaya lainnya. Hal inilah yang diduga memicu kecemburuan istri Rusdi lainnya hingga berbuntut aksi penganiayaan tersebut.
Sementara itu, Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Komisaris Besar Polisi Boy Rafli Amar menegaskan, pihaknya hingga kini masih menyidik kasus tersebut.
“Kasusnya sejauh ini masih dalam penyidikan. Untuk enam tersangka yang belum tertangkap masih dalam pengejaran anggota kami,†ujar Boy. Mengenai motif pengeroyokan yang dialami Rusdi, Boy belum bisa memberikan jawaban.
“Sejauh ini kami belum mendapat laporan dari Polsek (Pauh) bersangkutan,†tambahnya.
Menurut Boy, hingga saat ini polisi masih menampung semua laporan yang berkaitan dengan masalah Rusdi dan sepak terjangnya. Kendati begitu, Boy tidak menampik adanya dugaan Rusdi terlibat dalam pengerahan sekelompok preman. “Intinya kasusnya masih dalam penyidikan. Anggota kami di sana terus berusaha untuk menuntaskan kasus tersebut,†kata Boy. [RM]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.