Karena itu, sebut politisi Partai Golkar Bambang Soesatyo, publik melihat nafsu merombak formasi kabinet sebagai tontonan tentang bagaimana Presiden dan Partai tertentu melampiaskan kemarahan, pasca gugurnya usul hak angket pajak di DPR.
"Marah karena satu dua anggota koalisi konsisten bersikap kritis. Seharusnya mereka introspeksi, karena gagal mengelola koalisi sebagaimana mestinya," katanya dalam keterangan pers yang diterima
Rakyat Merdeka Online (Minggu, 6/3).
Menurut Bamsoet, kini publik tidak melihat ada makna strategis dari
reshuffle kabinet itu, khususnya bagi rakyat dan negara. Idealnya, acuan
reshuffle adalah pandangan obyektif tentang kinerja kabinet, bukan semata-mata karena alasan marah terhadap anggota koalisi.
"Satu-satunya upaya yang relevan dan mendesak untuk dilakukan Presiden SBY adalah segera memperbaiki efektivitas kepemimpinannya. Jika kinerja pemerintah mumpuni, keyakinan dan kepercayaan rakyat datang dengan sendirinya, tanpa perlu program pencitraan," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: