Isu Reshuffle Lampiasan Kemarahan SBY dan Demokrat

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Minggu, 06 Maret 2011, 16:10 WIB
Isu Reshuffle Lampiasan Kemarahan SBY dan Demokrat
sby/ist
RMOL. Isu reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II terus menggelinding. Tapi isu reshuffle ini hanya ditujukan kepada kader-kader PKS dan Partai Golkar, karena berseberangan dengan Partai Demokrat dalam usul penggunaan hak angket pajak. 

Karena itu, sebut politisi Partai Golkar Bambang Soesatyo, publik melihat nafsu merombak formasi kabinet sebagai tontonan tentang bagaimana Presiden dan Partai tertentu melampiaskan kemarahan, pasca gugurnya usul hak angket pajak di DPR.

"Marah karena satu dua anggota koalisi konsisten bersikap kritis. Seharusnya mereka introspeksi, karena gagal mengelola koalisi sebagaimana mestinya," katanya dalam keterangan pers yang diterima Rakyat Merdeka Online (Minggu, 6/3).

Menurut Bamsoet, kini publik tidak melihat ada makna strategis dari reshuffle kabinet itu, khususnya bagi rakyat dan negara. Idealnya, acuan reshuffle adalah pandangan obyektif tentang kinerja kabinet, bukan semata-mata karena alasan marah terhadap anggota koalisi.

"Satu-satunya upaya yang relevan dan mendesak untuk dilakukan Presiden SBY adalah segera memperbaiki efektivitas kepemimpinannya. Jika kinerja pemerintah mumpuni, keyakinan dan kepercayaan rakyat datang dengan sendirinya, tanpa perlu program pencitraan," tandasnya. [zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA