WAWANCARA

Julian Aldrin Pasha: Presiden Belum Menanggapi Soal Komentar Jusuf Kalla Itu

Rabu, 02 Februari 2011, 04:37 WIB
Julian Aldrin Pasha: Presiden Belum Menanggapi Soal Komentar Jusuf Kalla Itu
Julian Aldrin Pasha
Juru Bicara Presiden Bidang Dalam Negeri, Julian Aldrin Pasha mengatakan, krisis politik di Mesir dan Tunisia tidak akan menjalar ke Indonesia.

“Sampai saat ini kita tidak me­lihat ada tanda-tanda bahwa apa yang terjadi di Mesir dan Tunisia menjalar ke Indonesia,” ujarnya kepada  Rakyat Merdeka, seusai acara Promosi Doktor Muham­mad Dahrin La Ode di Uni­versitas Indonesia (UI), Depok, kemarin.

Sebelumnya bekas Wakil Pre­siden Jusuf Kalla (JK) menga­takan, krisis politik di Mesir dan Tunisia bisa menjalar ke Indo­nesia.

“Ada tiga hal yang menyebab­kan munculnya perlawanan rak­yat, yaitu jika negeri itu kebe­ba­sannya kurang dan tidak demo­kra­tis. Juga jika negeri itu korup dan ada masalah ekonomi,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia memi­liki kebebasan yang luar biasa. Na­mun, kalau muncul KKN, me­ning­katnya pengangguran dan kemiskinan atau gejolak pangan, itu bisa terjadi (menjalar) seperti di Mesir.

Julian Aldrin Pasha selanjutnya mengatakan, situasi di Mesir tentu berbeda dengan Indonesia. Di sini terjadi kebebasan demo­krasi. Begitu juga keamanannya baik, termasuk perbaikan eko­nomi.  

“Saya kira tidak akan terjadi seperti di Mesir dan Tunisia. Kon­disinya sangat berbeda kok,’’ ujarnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apakah ada alasan lainnya, sehingga Anda yakin gejolak di Mesir dan Tunisia tidak akan menjalar ke Indonesia?
Sektor ekonomi dan keuangan tidak rawan. Tidak  mengkha­watir­kanlah. Begitu juga segi politik, dan Hankam, kondisinya cukup stabil. Jadi, tidak ada ala­san kejadian di Mesir dan Tunisia terjadi di Indonesia.

Artinya pemerintah tidak kha­watir ya?
Ya, seperti yang saya bilang tadi, situasi politik, ekonomi, dan rasa aman aman masyarakat ma­sih terkendali. Indonesia adalah negara besar, variatif dari sisi etnis, tapi kita punya social capi­tal yang kuat yakni kebersamaan.

Masyarakat Indonesia yang multi etnis, dan multi budaya tentu saja sepakat pada empat pi­lar, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhi­neka Tung­gal Ika.

Empat pilar ini bukan suatu hal yang dipaksakan se­cara vertikal oleh pe­merintah. Tapi itu ada­lah kese­pa­katan kita, pada saat ne­­ga­ra ini dibentuk oleh Bung Karno, Bung Hatta, dan lainnya. Itulah yang men­ja­di­kan kita tetap kuat sampai se­karang.

Apa pe­merintah tidak meli­hat jeritan masyarakat saat ini seperti di­lon­tarkan sejumlah tokoh?  
Rakyat Indonesia dan peme­rin­tah sama-sama tidak mengingin­kan adanya kerusuhan seperti di Mesir dan Tunisia. Krisis seperti itu sudah dialami Indonesia tahun 1998, akibat dampak krisis finan­sial global. Tapi situasi itu jelas berbeda dengan kondisi saat ini.

Kita tahu bahwa iklim yang lebih terbuka dan bebas menjadi lebih demokratis. Justru ini mem­berikan ruang pada setiap warga negara untuk memberikan hak pendapat mereka. Dan itu sudah tersalurkan dengan baik. Jadi, saya percaya tidak mungkin akan terjadi gejolak politik se­perti di Mesir.  

Tapi banyak kalangan meni­lai kinerja pemerintah saat ini ku­rang berhasil, bagaimana ko­mentar Anda?
Memang sebagian masyarakat memandang kinerja pemerintah belum optimal. Tapi saya menya­dari, ada yang perlu diperbaiki terhadap kinerja kabinet. Tentu ini merupakan pekerjaan rumah dan tantangan pemerintah.

Kita tahu memang banyak ham­batan dan ketertinggalan, tapi pemerintah senantiasa berusaha untuk memperbaiki kinerja atas prestasi mereka untuk mencapai tujuan mensejahterakan rakyat.

Berarti kinerja pemerintah ga­gal dong?
Tidak benar kalau pemerintah dikatakan gagal total. Sebaliknya, pemerintah pun tidak pernah mengklaim bahwa kinerjanya se­penuhnya berhasil atau sepenuh­nya bisa menyelesaikan hal-hal yang menjadi target selama ini.

Karena ini masih di tengah pro­ses dan masih ada kesempatan untuk memperbaiki kinerja pe­me­rintah. Kita berharap agar masyarakat juga bisa bersabar, karena pemerintah akan mengu­payakannya.

 Apa yang terjadi di Mesir bisa diambil hikmahnya untuk belajar membangun bangsa. Kerusuhan seperti itu tidak pernah diharap­kan negara manapun.

JK berpendapat, bila KKN tetap marak, pengangguran me­ningkat, dan kemiskinan tetap banyak, terjadi gejolak pangan, sehingga bisa terjadi gejolak se­perti di Mesir, bagaimana ko­men­tar Anda?
Saya kira apa yang disampai­kan Pak Jusuf Kalla itu bersifat mengingatkan saja, bukan me­nya­takan bahwa terjadi kerusu­han seperti di Mesir. Tapi bagai­mana kita mengantisipasi agar tidak terjadi seperti itu. Kita kan tahu, kalau terjadi kerusuhan ti­dak ada untung dan positifnya bagi masya­rakat. Pengorbanan seperti itu suatu yang sangat mahal.

Bagaimana tanggapan Pre­siden terkait dengan pernya­taan JK itu?
Presiden belum menanggapi soal komentar Jusuf Kalla itu. Beliau hanya mendengar dan mem­baca dari koran tentang per­kataan Jusuf Kalla tersebut.

Menurut pandangan pribadi saya lebih kepada kehati-hatian terhadap kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi, bilamana kita tidak mengantisipasi. Tapi itu bukan berarti akan menular.   [RM]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA