“Pembatasan BBM bersubÂsidi ini sangat jelas bikin rakyat kian tertindas. Jadi, ini perlu diÂcegah,’’ ujar Wakil Ketua Komisi VII DPR, Effendi Simbolon, keÂpada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Pemerintah berencana membaÂtasi BBM bersubsidi yang diÂmulai 1 Januari 2011. Tapi, upaya itu harus disetujui Komisi VII DPR yang membidangi masalah energi.
Menurut Ketua DPP PDIP Bidang Sumber Daya dan Dana itu, pemerintah belum menyamÂpaikan secara resmi ke DPR terÂkait keinginan membatasi BBM bersubsidi tersebut.
“Kami belum menerima secara resmi soal pembatasan BBM berÂsubsidi itu,†kata Effendi SimÂbolon.
Berikut kutipan selengkapnya:
Rencananya awal DeÂsemÂber diajukan ke DPR, kenapa belum diserahkan ya?
Mana saya tahu. Yang jelas, secara resmi kami belum mendaÂpatkan usulan dari pemerintah soal pembatasan BBM bersubÂsidi itu. Ini kan gaya pemerintah yang tidak pernah secara tegas mengÂhormati DPR.
Maksudnya?
Seharusnya setiap perubahan dalam kebijakan dari Undang-undang APBN dibahas dan diÂminta persetujuan DPR. Itu hakeÂkat sebuah sistem penyelenggaÂraan negara. Kalau ingin ada peÂrubahan dalam kebijakan energi masalah BBM yang bersubsidi, maka itu harus dibicarakan.
Apa Anda menolak dengan pemÂbatasan tersebut?
Kami Fraksi PDIP DPR secara tegas menolak. Pemerintah tidak jujur. Seharusnya katakan bahwa pemerintah tidak siap menyeÂdiakan premium.
Kalau dilakukan pembatasan, tentu sudah masuk pada ranah-ranah pribadi. Kenapa masyaraÂkat tidak boleh memilih preÂmium, kenapa harus dipaksa memilih pertamax dan pertamax plus. Itu kan cara pemerintah kongÂkalikong dengan Pertamina untuk melukai rakyat. PembataÂsan BBM ini sederhana tapi damÂpaknya luar biasa.
Pemerintah berdalih kalau BBM disubsidi terus maka neÂgara mengalami kerugian?
Kembali saya minta pemerinÂtah harus jujur pada dirinya senÂdiri dan kepada rakyat. Apa sih, hakekat dari subsidi itu sendiri. Apakah sebagai sedekah atau donasi. Ini kan harus dimakÂnai sebagai sebuah arti stimulasi bagi pertumbuhan ekonomi. KhuÂsusnya di masyarakat marÂjinal.
Jangan hanya sebagai donasi atau sedekah dari negara atau peÂmerintah kepada rakyat. Apakah dengan begitu, rakyat kemudian membutuhkan subsidi itu. MeÂreka memang membutuhkan tapi bukan dalam arti mengemis.
Memang siapa yang berhak mendapatkan BBM bersubÂsidi?
Mereka yang benar-benar belum mempunyai daya beli yang cukup, sehingga mereka sangat membutuhkan BBM yang berÂsubsidi. Jadi, jangan menyalahÂkan mereka.
Apa Anda melihat ada muaÂtan politis dari pembatasan itu?
Jangan sampai saja, sekarang dilakukan pembatasan, dan meÂnaikkan harga BBM, tapi mendeÂkati 2014, harganya diturunkan lagi dua kali, dan diiklankan lagi bahwa ini pembelaan kepada rakyat.
Ini kan tipu-tipu. Seharusnya masyarakat dari kalangan bawah yang menggunakan motor henÂdaknya perlu diperhatikan. JaÂngan dibatasi menggunakan preÂmium. Lagipula masyarakat mengÂgunakan motor karena peÂmerintah yang becus menyediaÂkan transportasi. [RM]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: