“Siapa bilang dari pertemuan itu melahirkan adanya isu pengÂguÂlingan pemerintah SBY. Isu tersebut keliru besar. Tidak ada pembicaraan seperti itu kok,’’ ujar Ketua Umum Partai Pelopor itu kepada
Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Dikatakan, tokoh nasional itu berbicara soal politik bertema “Mengurai Berbagai ProbleÂmaÂtika Bangsa dan Mencari SoluÂsinyaâ€.
Yang hadir bekas Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua MPR Taufik Kiemas, Ketua Umum Hanura Wiranto, Ketua MahkaÂmah Konstitusi Mahfud MD, bekas Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, bekas Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir, pengusaha nasional Sofyan Wanandi, bekas anggota Dewan Pertimbangan Presiden Rachmawati SoekarnoÂputri, ekonom Rizal Ramli, dan Ketua Umum PP MuhammaÂdiyah Din Syamsuddin.
Kemudian pertemuan berlanjut dengan konsolidasi organisasi pemuda dan aktivis kampus di kantor PB Nahdlatul Ulama, Jakarta pada Minggu, (10/10) yang dideklarasikan oleh deklaÂrator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie Massardi, sehingga santer isu demo besar-besaran yang menargetkan penggulingan Presiden SBY.
Rachmawati selanjutnya meÂngaÂtakan, memang ada tokoh yang mengkritik pemerintah, tapi sifatnya membangun, bukan untuk menggulingkan pemerinÂtah SBY.
“Saya kira membicarakan pengÂgulingan SBY itu sangat prematur, belum saatÂnya. Sebab, posisinya sangat kuat. Tapi ya, itu semua terserah rakyat juga,’’ ujar bekas Watimpres itu.
Berikut kutipan seÂlengÂkapnya:Kalau tidak ada pembiÂcaÂraÂan seperti itu, kok ada isuÂnya?Ya, saya nggak tahu. Saya saja baru dengar dari Anda soal ini. Namanya juga isu kan sumbernya nggak jelas.
Para tokoh itu bicara apa saja? Ya, macam-macam. Yang jelas, ada kritikan tapi sifatnya memÂbangun untuk kepentingan rakyat banyak.
Hanya seperti itu?Ya, kami berharap agar pemeÂrintah menangkap aspirasi dari hati nurani rakyat. Intinya seperti itu.
Bagaimana Anda memaknai ungkapan Rizal Ramli?Ucapan Pak Rizal yang saya tangkap adalah demokrasinya prosedural. Tapi yang terjadi seÂmacam demokrasi kriminal. MeÂmang kebebasan yang diartiÂkan oleh segelintir orang sekaÂrang ini sebagai suatu kebebasan untuk melakukan apa saja. Baik itu dari pihak upstream maupun dari downstream.
Apa itu saja makna yang Anda tangkap? Itu yang saya tangkap. Seperti maraknya anarkisme. Nah, ini kan sebetulnya dimaknai dengan produk liberalisasi terhadap deÂmoÂkrasi. Karena demokrasi kita setelah reformasi, kebablasan.
Soal Petisi 28 yang digalakÂkan Adhie Massardi bahwa pemerinÂtah SBY perlu diganti?Ya, boleh-boleh saja perminÂtaan seperti itu. Orang berpenÂdapat begitu kan wajar saja, itu bagian dari alam demokrasi. Tapi kalau mau menjatuhkan, ya tunggu dulu, harus ada aturannya, sesuai konsÂtitusi. Tidak gampang mengganti suatu pemerintah yang sah.
Jadi, Anda tidak setuju dengÂan penggulingan? Maksudnya kudeta gitu. KudeÂtanya bagaimana modelÂnya, apa kudeta ala Istana atau kudeta jalanan. Saya nggak ngerti makÂsudnya.
Bagi saya, penggulingan pemeÂrinÂtah, itu prematur amat ya.
Mahasiswa mau digiring tuÂrun ke jalan untuk mengguÂlingÂkan peÂmerintahan pada 20 Oktober mendatang?Ya, dengar-dengar sih begitu. Itu kan sudah lama gitu-gitu saja. Dari saya jadi Watimpres sudah dengar-dengar begitu.
Saat pertemuan itu, Anda berÂkomentar apa? Kita semua merasakan seperti TDL naik, itu membebani hajat hidup orang banyak. Saya cuma mengimbau dan urun saran saja agar amanat penderitaan rakyat tetap dipegang.
Selain itu, saya kemukakan soal amburadulnya amandemen konstitusi kita. Seharusnya kita semua anak bangsa ini harus tetap berkomitmen terhadap 4 pilar kebangsaan kita, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.
[RM]
BERITA TERKAIT: