WAWANCARA

Pong Harjatmo: Berniat Coret-coret Istana Kalau SBY Masih Diam

Selasa, 03 Agustus 2010, 02:16 WIB
Pong Harjatmo:  Berniat Coret-coret Istana Kalau SBY Masih Diam

Jakarta, RMOL. Aktor kawakan, Pong Harjatmo, berniat mencoret-coret Istana bila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak angkat bicara berbagai masalah dihadapi negeri ini.

Ancaman ini bukan pepesan kosong. Soalnya, Jumat (30/7), aktor tahun 1980-an itu telah bi­kin heboh dengan ulahnya men­­­coret-coret kubah gedung DPR/MPR dengan kata-kata; jujur, adil, tegas. Ini bentuk kriti­kan kepada wakil rakyat yang dinilai­nya ‘tukang malas’.

“Saya lihat Pak SBY itu terlalu banyak diam. Padahal begitu ba­nyak masalah di negeri ini yang tidak bisa diselesaikan dengan cara berdiam,’’ ujar Pong Harjat­mo kepada Rakyat Mer­deka, di Jakarta, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya:

Seharusnya SBY bersikap ba­gaimana?

Ya, berbicaralah kepada publik atas berbagai masalah yang di­hadapi negeri ini. Sebagai Kepala Negara, gaya kalem seharusnya tidak dipakai untuk menyele­saikan masalah. Jujur ya, saya kecewa karena jagoan saya saat Pemilu 2004 dan Pemilu 2009 itu menjadi seperti ini.

Emang apa saja masalah bang­sa ini yang perlu ditun­tas­kan dengan angkat bicara?

Banyak masalah  sekarang ini. Memang benar, dengan berbicara masalah tidak selesai. Tapi paling tidak, rakyat merasa disapa deng­an berbagai masalah itu.

Apa sih masalah itu menurut Anda?

Banyak. Misalnya saja, ba­nyak gas elpiji meledak, harga kebu­tu­han pokok meroket, kasus Century jalan di tempat, penye­lesaian kasus rekening gendut Polri.

Jadi Anda serius berniat corat-coret Istana?

Tentu, saya akan berniat ke situ. Tapi bukan saat ini. Sebab, saya corat-coret gedung DPR saja dampaknya luar biasa. Sambutan rakyat begitu besar. Kemudian tadi (kemarin, red) saya diterima Pramono Anung (Wakil Ketua DPR dari Fraksi PDI)). Beliau berjanji akan menindaklanjuti apa yang saya sampaikan.

Lantas kapan akan menc­orat-coret ke Istana?

Nantilah Kalau DPR tidak mem­­perbaiki kinerjanya. Begitu juga dengan kinerja SBY itu. Saya berharap SBY berubahlah.

Di mana rencananya men­corat-coret itu?

Ya, saya kan harus mensurvei dulu yang pas di mana. Jadi, saya nggak mau gegabah untuk me­lakukan aksi coret-mencoret.

Selain rencana di Istana, apa ada niat di tempat lain?

Ya ada, misalnya di tanah seng­­­keta di bekas Taman Ria Senayan. Itu kan dipagar seng. Ya di situ saja, aku akan coretnya dengan kata-kata; Cintai Nege­rimu, Cintai Rakyatmu atau Cintai Bangsamu.

O ya, kenapa sih melakukan corat-coret di gedung kura-kura parlemen?

Saya sangat kecewa dengan DPR. Sebab, banyak yang malas bekerja. Perhatian sama rakyat berkurang, yang diperjuangkan hanya kepentingan golongan dan kelompoknya saja. Sedangkan rakyat dicuekin saja.

Gimana sih ceritanya bisa me­lakukan aksi yang ekstrem itu?

Memang niat saya mau nulis; jujur, adil, dan tegas. Tapi di mana pasnya itu kan. Kalau ditembok dibawah belum selesai nulis, pasti udah diamankan pihak kea­manan. Saya muter-muter, lalu saya naik ke atas. Eh, kebetulan gedung itu sedang direnovasi. Jadi ada tangga di belakang, jadi aku naiknya lewat pagar.

Terus di pagar itu ada tali dii­katin sampai puncak sampai ge­dung, ada tiang dari besi. Nggak tau buat apa itu. Aku naik dari pa­gar, terus aku naik ke atap. Aku ja­lan ke atas sambil pegang tali itu.

Aku berpikir, kalau lebih ke bawah kan lebih kelihatan. Tapi aku kan takut kepeleset, panas dan angin kenceng lagi. Terus saya semprotin yang kira-kira nggak kepeleset dan nggak begitu bahaya. Habis semprotkan satu pilox, saya turun dengan mundur sambil pegangan tali itu juga. Sampai di bawah, sudah di­tungguin sama pihak keamanan.

Lalu apa yang terjadi setelah itu?

Saya dibawa ke polisi. Di situ kan ada kantor pos polisi.

Saat naik ke atas kubah itu kok nggak ketahuan ya?

Aku melakukannya pas orang mau siap-siap untuk sholat Jum’at.

Apa Pamdal nggak curiga?

Nggak dong. Aku kan sudah di­kenal semua petugas keamanan. Aku masuk saja mereka (Pamdal) sudah menyapa.

Nggak takut ya naik gedung kura-kura ?

Nggak, buktinya aku nggak apa-apa kok. Emang kalau ber­juang harus nyalinya gede.

Emang dukungannya dari mana saja sih?

Dari banyak kalangan. Ada yang menyampaikan lewat SMS, blogger,  twitter, dan telpon juga banyak.

Ada yang bilang aksi ini ha­nya mencari sensasi saja, apa betul itu?

Boleh saja menilai seperti itu. Hak mereka untuk menafsir­kannya, tapi banyak dukungan ter­hadap saya.

[RM]


Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA