WAWANCARA

Melli Darsa: Memang Kita Lemah Secara Fisik, Tapi Tangguh Kalau Diberi Pekerjaan

Selasa, 03 Agustus 2010, 00:49 WIB
Melli Darsa: Memang Kita Lemah Secara Fisik, Tapi Tangguh Kalau Diberi Pekerjaan
Jakarta, RMOL.

Sejak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berdiri, belum pernah perempuan menjadi pimpinannya. Tapi kali ini ada secercah harapan, kaum hawa mengomandoi lembaga superbody itu.

Sebab, di antara 12 calon Ketua KPK salah satunya adalah perem­puan, yakni  Melli Darsa yang selama ini telah menggeluti dunia hukum sebagai pengacara.

“Memang perempuan lemah secara fisik. Tapi pada dasarnya tangguh dan kalau diberi peker­jaan,’’ ujar Melli Darsa kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya:

Bagaimana perasaannya ma­suk 12  besar calon Ketua KPK?

Ya, jelas senang sekali. Sebab, calonnya kan ada 143 orang. Kemudian sekarang tinggal 12 orang.

Anda satu-satunya perem­puan yang masuk 12 besar, apa ko­mentarnya?

Motivasi awal saya, ingin ber­buat sesuatu untuk memberantas korupsi di negeri ini. Selain itu, ada juga keinginan mencetak sejarah bahwa saya perempuan pertama menjadi Ketua KPK.   

Selama ini ada  persepsi wa­nita kurang pas jadi Ketua KPK?

Memang, kalau kita bicara soal KPK sama dengan kepolisian dan kejaksaan yang pimpinannya didominasi pria. Jadi penegak hukum itu kental urusan maskulin (jantan dan berani). Tapi menurut saya, komisi ini tak hanya mem­butuhkan pendekatan penegakan hukum tapi juga edukasi dan pencegahan, maka saya menilai Ketua KPK idealnya diisi pe­rempuan.

Alasannya?

Perempuan itu kan sudah pasti punya empati, jadi tahu aspek sosiologis maupun psikologis korupsi itu terjadi, sehingga bisa menciptakan program dan edu­kasi yang lebih baik.

Ooo gitu, bagaimana soal per­sepsi kalau perempuan itu lemah, sehingga tidak cocok me­­mimpin KPK?

Memang perempuan lembah secara fisik. Tapi pada dasarnya tangguh dan kalau diberi peker­jaan.  Dia cakep dan tidak  begitu mudah dipengaruhi untuk tidak mengikuti prosedur dan mela­kukan penyalahgunaan kekuasa­an. Jadi sebenarnya kelemahan fisik dan persepsi emosional itu lebih bersifat pribadi, sementara korupsi itu kan tidak pribadi. Justru sebenarnya seorang wanita itu mungkin baik sekali sebagai pimpinan KPK tapi tidak berarti saya yang terbaik.

Tapi Anda yakin bisa men­jadi terbaik kalau dipilih men­jadi Ketua KPK?

Saya beri contoh saja ya. Salah satu komisoner yang jadi pim­pinan KPK yang paling sukses di Hongkong itu adalah wanita. Jadi bisa ditepis kalau pimpinan KPK itu identik dengan pria.

Apakah ada firasat bisa ma­suk 12 besar?

Ada juga sih firasat.

Kenapa kepingin jadi pimpi­nan KPK?

Itu karena saya punya concern (kepedulian) terhadap apa yang menjadi persoalan hukum di ne­gara ini, khuusnya pada pem­berantasan korupsi. Setahun belakangan ini kan korupsi betul-betul menimbulkan keresahan, makanya saya sebagai salah se­orang yang ikut bergelut dengan hukum tidak bisa tinggal diam saja. Saya mendaftar semata atas dasar kepedulian, bukan mencari kemenangan.

Bagaimana dengan adanya makelar kasus?

Kita sebagai masyarakat harus sabar dan tertib mengikuti pro­sedur yang ada. Dalam pemu­dahan perkara misalnya, makelar kasus itu ada karena ketidak­puasan masyarakat. Dengan sistem yang baku, tentu mafia itu tak akan terjadi.

Penghasilan Anda sebagai pengacara kan lumayan besar, kenapa mau jadi pimpinan KPK?

Memang benar penghasilan saya saat ini lumayan besar. Tapi persoalan penegakan hukum ini kan juga saya alami. Permasa­lahannya, kalau penegak hukum kita sekarang kotor, masyarakat akan makin apatis. Selesaikan persoalan di internal aparat pene­gak hukum juga kan tidak mung­kin, makanya saya ingin ungkap­kan masukan-masukan saya dengan ikut seleksi ini.

Itu saja tujuannya?

O, tidak dong. Saya kepingin ter­pilih juga. Sebab, korupsi se­ka­rang ini hampir di semua lini, jadi tidak boleh pilih-pilih. Tapi harus juga ada agenda prioritas.

Anda bersaing dengan  Jimly Asshiddiqie, Busyro Mu­qoddas, dan Bambang Widjojanto, gi­mana tuh?

Saya hormati mereka sebagai senior. Tapi intinya saya bukan takut bersaing. Saya hormati me­reka dan 11 calon lainnya.

Tekanan sebagai pimpinan KPK cukup besar karena akan berhadapan dengan koruptor, Anda siap?

Insya Allah, saya siap, doain saja. Mudah-mudahan diberi kemudahan supaya berguna bagi bangsa dan rakyat.

Sudah siap mental nggak ha­dapi teror bahkan sampai di­kri­­minalisasi?

Ya mudah-mudahan tidak di­kri­minalisasi, kalau diteror saya sudah siap sebagai konsekuensi atas risiko pekerjaan.

Anda memiliki law firm, apa­kah bersedia untuk me­ninggal­kannya kalau terpilih menjadi Ketua KPK?

Kalau itu, ya harus dong...

[RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA