Sumpah Pemuda 2026

Jangan Biarkan Pemuda Kehilangan Arah

Kamis, 29 Oktober 2026, 12:03 WIB
Jangan Biarkan Pemuda Kehilangan Arah
Logo Sumpah Pemuda 2026. (Foto: Istimewa)
Kecil Besar
DI balik senyum anak muda di media sosial, ada yang cemas memikirkan pekerjaan, berjuang membayar kuliah, membantu ekonomi keluarga, atau merasa tertinggal dari teman-temannya. Banyak pula yang memiliki kemampuan dan cita-cita besar, tetapi belum menemukan jalan untuk berkembang.

Itulah realitas yang dihadapi sebagian generasi muda. Era digital menawarkan peluang luas, sekaligus menghadirkan persaingan, tekanan sosial, dan ketidakpastian masa depan. Karena itu, memperingati Hari Sumpah Pemuda tidak cukup dengan menyerukan cinta tanah air. Indonesia juga harus memberi generasi penerus untuk berharap dan kesempatan untuk maju.

Pada Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke-98 tahun 2026, Presiden Prabowo Subianto mengajak generasi muda menjaga persatuan. Melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, pemerintah menegaskan bahwa semangat satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa perlu diteruskan melalui karya, inovasi, serta kontribusi nyata.

Pesan tersebut penting. Sebab, nasionalisme bukan sekadar seruan, melainkan juga tumbuh melalui keadilan, pendidikan yang layak, pekerjaan, dan ruang untuk menentukan masa depan.

Semangat 1928, Tantangan Generasi Z

Pada 28 Oktober 1928, para pemuda Indonesia menyatakan ikrar bersejarah yaitu bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Meski berasal dari latar belakang suku, agama, dan daerah berbeda, mereka mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok. Sumpah tersebut menjadi tonggak penting perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia pada 1945.

Jika generasi muda kala itu menghadapi kolonialisme, Generasi Z kini berhadapan dengan persaingan global, perubahan teknologi, ketimpangan kesempatan, tekanan ekonomi, dan derasnya arus informasi.

Nilai Sumpah Pemuda tetap relevan, tetapi harus diwujudkan sesuai tantangan zaman. Perjuangan masa kini mencakup upaya mengatasi pengangguran, disinformasi, dan ketidakadilan.

Persatuan bukan berarti semua orang harus berpikir sama. Persatuan berarti menghargai perbedaan, berdialog secara sehat, dan bekerja bersama demi kepentingan bangsa.

Pendidikan dan Pekerjaan: Jangan Biarkan Harapan Patah

Bagi banyak anak muda, perjuangan bukan sekadar meraih prestasi, melainkan membangun kehidupan yang lebih baik. Mereka dituntut berpendidikan tinggi, menguasai teknologi, dan memiliki keterampilan. Namun, akses terhadap pendidikan bermutu belum merata.

Ketika memasuki dunia kerja, sebagian lulusan mendapati keterampilannya belum sesuai dengan kebutuhan industri. Ada yang kesulitan memperoleh pekerjaan, sementara lainnya harus menerima upah yang belum sebanding dengan kebutuhan hidup.

Kita tidak bisa terus menuntut kerja keras tanpa memperbaiki ekosistem pendukungnya. Kegigihan penting, tetapi harus disertai kesempatan nyata.

Pemerintah perlu memperkuat pendidikan vokasi, pelatihan sesuai kebutuhan industri, sertifikasi kompetensi, serta kemitraan lembaga pendidikan dengan dunia usaha. Kesempatan magang dan pekerjaan pertama juga harus diperluas. Wirausaha muda membutuhkan akses permodalan, pendampingan, dan pasar.

Peluang ekonomi pun tidak boleh terkonsentrasi di kota besar. Anak muda di daerah berhak memperoleh akses pendidikan, teknologi, dan pekerjaan yang lebih setara.

Keberhasilan kebijakan kepemudaan semestinya diukur dari peningkatan keterampilan, tersedianya pekerjaan, dan membaiknya kesejahteraan, bukan sekadar jumlah seminar atau pelatihan.

Media Sosial dan Jangan Kehilangan Jati Diri

Internet membuka jalan untuk belajar, membangun usaha, dan menyampaikan gagasan. Namun, media sosial juga dapat menjadi sumber tekanan.

Pencapaian, liburan, dan gaya hidup orang lain kerap terlihat sempurna. Sebagian anak muda akhirnya mengalami fear of missing out (FOMO), takut tertinggal tren, dan terus membandingkan diri dengan orang lain.

Padahal, apa yang terlihat di layar tidak selalu mencerminkan kenyataan. Di balik foto bahagia, seseorang mungkin menyimpan persoalan yang tidak diketahui orang lain.

Tekanan ini perlu dihadapi dengan empati, bukan ejekan. Keluarga dan lembaga pendidikan harus menyediakan ruang dialog agar anak muda berani membicarakan kecemasan mereka. Dukungan kesehatan mental juga perlu diperkuat tanpa stigma.

Literasi digital harus mencakup kemampuan memeriksa informasi, menjaga privasi, menghindari perundungan siber, dan memahami bahwa popularitas bukan ukuran harga diri. Teknologi seharusnya membantu mengembangkan potensi, bukan menentukan nilai seseorang.

Narkoba, Hedonisme, dan Pudarnya Kepedulian

Ancaman narkoba, budaya konsumtif, dan sikap apatis terhadap lingkungan sosial tidak dapat diselesaikan dengan menyalahkan generasi muda semata.

Pencegahan narkoba membutuhkan keluarga yang peduli, pendidikan, lingkungan pergaulan sehat, serta penegakan hukum tegas terhadap jaringan peredaran. Pengguna yang membutuhkan pertolongan harus memperoleh akses rehabilitasi yang sesuai.

Budaya hedonisme perlu diimbangi pendidikan tentang tanggung jawab, kemandirian, dan pengelolaan keuangan. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kepemilikan barang atau pengakuan di media sosial, tetapi juga kemampuan berkarya dan memberi manfaat.

Kepedulian sosial bisa dimulai dengan membantu tetangga, menjadi relawan, menjaga lingkungan, atau terlibat dalam organisasi. Pemuda juga perlu berani menyampaikan kritik terhadap kebijakan publik secara bertanggung jawab. Dalam demokrasi, kritik berbasis fakta dan disertai solusi merupakan bentuk kepedulian terhadap bangsa.

Patriotik, Gigih, dan Berempati

Tema HSP ke-98, “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, menawarkan tiga nilai penting untuk menghadapi tantangan zaman.

Patriotik berarti mencintai tanah air melalui tindakan nyata: menjaga persatuan, menghormati perbedaan, menaati hukum, dan memperjuangkan keadilan.

Gigih berarti tidak mudah menyerah menghadapi kegagalan. Namun, semangat ini harus didukung pendidikan bermutu, kesempatan kerja, dan kebijakan yang membuka jalan menuju kemajuan.

Berempati berarti memahami kesulitan orang lain, menolak perundungan, menghargai perbedaan, dan menggunakan kemampuan untuk membantu masyarakat.

Ketiganya harus berjalan bersama. Patriotisme tanpa kepedulian mudah menjadi slogan. Kegigihan tanpa kesempatan dapat berujung kelelahan, sedangkan kemampuan tanpa empati berisiko hanya digunakan untuk kepentingan pribadi.

Nasionalisme Harus Terasa dalam Kehidupan

Pemerintah telah menyatakan komitmen memperluas kesempatan bagi generasi muda untuk belajar, mengembangkan potensi, dan berpartisipasi dalam pembangunan. Komitmen ini harus diwujudkan melalui program terukur yang manfaatnya dirasakan langsung.

Pemuda perlu dilibatkan dalam penyusunan kebijakan, bukan sekadar diundang menghadiri acara. Program pendidikan dan ketenagakerjaan harus dievaluasi berdasarkan hasil, sementara perlindungan dari kekerasan, narkoba, perundungan, dan risiko digital perlu diperkuat.

Generasi muda juga bertanggung jawab mengembangkan keterampilan, menjaga integritas, dan menggunakan kebebasan secara bijaksana. Keluarga, sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat harus ikut mendampingi mereka.

Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa masa depan bangsa dibangun melalui persatuan dan pengorbanan. Kini, semangat itu harus diwujudkan dalam keadilan, kesempatan yang merata, dan harapan yang tidak berhenti di tengah jalan bahkan jangan biarkan melangkah salah arah.

Nasionalisme bukan hanya tentang seberapa keras kita menyerukan cinta Indonesia, melainkan seberapa sungguh-sungguh kita memperjuangkan masa depan anak-anaknya.

Pemuda harus patriotik, gigih, dan berempati. Negara pun wajib memastikan kerja keras mereka tidak berakhir di depan pintu kesempatan yang tertutup.

Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-98. Mari menjaga persatuan, memperkuat kepedulian, dan membangun Indonesia yang bukan hanya dibanggakan, tetapi juga memberi harapan bagi generasi mudanya.

Dan jangan biarkan pemuda kehilangan arah.rmol news logo article

Naek Pangaribuan
Wartawan senior
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA