Ada dendam, rivalitas, gengsi, dan harga diri. Prinsip netizen Indonesia terkenal sakti mandraguna, “Tak masalah kalah dari negara lain, asal jangan dengan Malaysia!”
Sekarang, perang berlanjut ke Piala Asia AFC 2027 di Arab Saudi. Ketika daftar peserta diumumkan, netizen ASEAN mengucek mata, menepuk jidat, lalu meminjam kaca pembesar tetangga.
Indonesia ada. Thailand ada. Vietnam ada. Singapura ada. Jepang ada. Korea Selatan ada. Qatar ada. Bahkan Korea Utara pun ada.
Malaysia? Hilang seperti pendekar yang baru sadar jurus andalannya cuma gerakan pemanasan!
“Harimau Malaya mana?” Pertanyaan itu mengguncang fondasi semesta. Gunung Tahan bergetar. Sungai Pahang mendadak kehilangan arah. Seekor harimau konon menutup muka dengan kedua kaki depannya karena malu namanya dibawa-bawa dalam urusan sepak bola.
Di negeri MBG, kabar ini disambut seperti pengumuman warung kopi menggratiskan Koptagul selama tujuh hari. Grup WA mendidih. Para pendekar keyboard langsung mengenakan ikat kepala merah putih, lalu mengeluarkan jurus pamungkas, meme!
“Harimau Malaya sedang bertapa mencari jurus lolos!”
Kalau komentar netizen dijadikan tenaga listrik, Indonesia mungkin sudah mampu mengekspor energi ke galaksi sebelah.
Yang lebih menyakitkan, Singapura yang sering dijadikan bahan candaan dalam percakapan sepak bola ASEAN justru berhasil lolos. Malaysia harus menyaksikan dari luar gelanggang.
Dalam film silat, adegan seperti ini terjadi ketika murid yang diremehkan mendadak mengalahkan pendekar berjubah emas. Sang pendekar terpelanting, kumisnya berputar, lalu bertanya, “Ilmu apakah itu?” Jawabannya sederhana, hasil pertandingan!
Sebelumnya, jagat ASEAN juga diramaikan berbagai teori konspirasi seputar pertandingan. Profesor Facebook dan doktor WA sibuk menganalisis operan, ekspresi pemain, sampai gerakan wasit. “Jangan-jangan ada main mata!”
Waduh! Kalau semua dugaan dianggap bukti, pengadilan sepak bola harus membangun gedung sebesar Borobudur. Padahal, tuduhan tetaplah tuduhan jika tidak didukung bukti yang dapat diverifikasi.
Ironisnya, ketika para ahli konspirasi sibuk berdebat, Vietnam mengambil tiket. Singapura mengambil tiket. Indonesia mengambil tiket. Thailand mengambil tiket. Malaysia mengambil kalkulator, menghitung peluang sudah keburu lewat!
Pakcik bayangkan bus kontingen melaju menuju Arab Saudi. Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Singapura sudah duduk di dalam. Mesin menyala. Sopir menginjak pedal gas. Dari kejauhan, seorang pendekar berteriak, “Tunggu! Harimau Malaya belum naik!”
Sopir menoleh. “Tiketnya mana?” Pendekar terdiam. Angin bertiup. Daun berguguran. Musik kungfu mendadak berhenti. Sebab tiket tidak bisa diganti dengan auman!
Piala Asia 2027 akan menjadi panggung pertarungan sesungguhnya. Jepang membawa reputasi raksasa, Korea Selatan membawa tradisi kuat, Qatar berstatus juara bertahan, sedangkan Indonesia membawa harapan jutaan pendukung.
Malaysia masih bisa bangkit pada kompetisi berikutnya. Sepak bola bukan kitab kutukan. Hari ini gagal, besok masih ada kesempatan. Namun, selama rivalitas Indonesia-Malaysia menyala, bahan ledekan tampaknya bisa diwariskan sampai tujuh keturunan.
Pelajarannya, jangan sibuk mengajari pendekar lain menendang kalau kaki sendiri belum berhasil masuk gelanggang.
Harimau boleh mengaum sampai langit runtuh. Namun, kalau ijazahnya, eh salah, tiketnya tidak ada, penjaga gerbang tetap berkata, “Maaf, Tuan Harimau. Silakan berlatih lagi. Gelanggang sudah ditutup!” Ups
“Bang, bagaimana pun jiran kita itu serumpun. Semoga pakcik di sana ikut mendukung kita nanti.”
“Aamin, semoga bestie kita mendukung Garuda. Duh, jadi ingin seruput kopi lagi di Eight Ounce Coffee Co. di Suria KLCC, wak.”
Rosadi JamaniMantan wartawan
BERITA TERKAIT: