Saat ia dipuja-puji di luar negeri, saat itulah kursi menteri berpindah ke teman sendiri.
Pada 30 September hingga 1 Oktober 2026, Agus Gumiwang Kartasasmita berada di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat, menghadiri pertemuan tingkat menteri Global Forum on Steel Excess Capacity (GFSEC) 2026.
Ia terbang ribuan kilometer untuk menjalankan tugas negara, membicarakan industri baja dunia, menjalin komunikasi internasional, dan membawa nama Indonesia ke panggung global.
Di Milwaukee, pertemuan berlangsung. Jabat tangan, senyum diplomatik, kamera, dan pembicaraan serius mewarnai agenda. Bahkan, di sela-sela forum, Agus masih bertemu dengan pejabat perdagangan Amerika Serikat dan Korea Selatan.
Ia menjalankan tugas sebagai menteri, barangkali dengan pikiran penuh tentang industri nasional harus terus bergerak.
Namun, ketika Agus masih berada di Amerika, Jakarta mendadak menghadirkan babak tak kalah dramatis dari film politik Hollywood.
Pada 1 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantik Muhammad Sarmuji sebagai Menteri Perindustrian menggantikan Agus. Makjleb.
Agus masih di Milwaukee. Kursinya sudah berganti pemilik.
Nuan bayangkan ironi itu. Di satu belahan dunia, seorang menteri sedang menjalankan agenda resmi. Di belahan dunia lain, jabatan yang melekat padanya telah beralih kepada orang lain.
Yang membuat cerita ini terasa seperti lelucon semesta, penggantinya bukan orang asing, melainkan teman satu partainya sendiri di Partai Golkar!
Sarmuji sebelumnya menjabat Sekretaris Jenderal Golkar sekaligus Ketua Fraksi Golkar di DPR. Pada 2 Oktober, serah terima jabatan berlangsung di Kementerian Perindustrian.
Lalu, bagaimana ketika Agus kembali ke Jakarta? Kita tidak mengetahui secara pasti suasana kepulangannya, apa yang ia rasakan, atau bagaimana percakapannya dengan keluarga dan kolega.
Namun, bayangkan kontras mungkin menyertai kepulangan seorang pejabat setelah perjalanan dinas, koper dibawa pulang, agenda perjalanan ditutup, kolega ditemui, keluarga kembali berkumpul.
Istri dan anak-anak mungkin menyambut kepulangannya seperti keluarga menyambut seseorang baru menyelesaikan tugas jauh dari rumah.
Tetapi jabatan dahulu melekat pada dirinya sudah bukan miliknya lagi. Di sinilah imajinasi politik terasa begitu getir.
Begitu jabatan itu hilang, orang dengan mudah berpaling ke pejabat baru. Syukur-syukur didoakan baik, kadang muncul celetukkan, “Syukurin lho..!”
Dalam politik, seseorang bisa berangkat sebagai menteri dan kembali sebagai mantan menteri. Pesawatnya mungkin mendarat dengan selamat, tetapi kedudukannya tidak ikut pulang bersamanya. Nasibmu Gus..gus.
Nama Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Golkar, ikut menjadi sorotan. Pergantian ini berkaitan dengan konsolidasi kekuatan internal partai, termasuk perebutan pengaruh di Jawa Barat.
Namun, belum ada bukti terverifikasi, Bahlil mengatur pencopotan Agus. Bahlil menyatakan pengangkatan dan pemberhentian menteri merupakan hak prerogatif Presiden. Sarmuji pun mengaku baru memperoleh kepastian penunjukannya pada pagi hari sebelum pelantikan.
So, apakah ini pertarungan faksi Golkar? Masih perlu bukti. Apakah Agus diberi tahu sebelum pelantikan? Pertanyaan itu juga membutuhkan jawaban jelas. Yang pasti, pergantian berlangsung ketika Agus sedang menjalankan agenda resmi di Milwaukee.
Kasihan Agus. Berangkat ke Amerika membawa nama Indonesia, pulang membawa kenyataan politik yang berbeda. Kursi yang ditinggalkannya? Kini menjadi tanggung jawab teman sendiri.
Di Milwaukee, Agus menjalankan tugas negara. Di Jakarta, kursinya menemukan tuan baru. Begitulah politik, wak. Kadang-kadang, yang paling menyakitkan bukan kehilangan kursi, melainkan mengetahui, penggantinya adalah kawan sendiri.
“Semoga saja, Pak Agus ikhlas, Bang.”
“Aamin, wak. Semoga ikhlas se-ikhlasnya dunia akhirat.”
Rosadi JamaniMantan wartawan
BERITA TERKAIT: