Demikian disampaikan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita saat membuka Indo Leather & Footwear (ILF) Expo dan Indo Garment & Textile (IGT) Expo 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Rabu 5 Agustus 2026.
Menurut Menperin, dengan pasar domestik yang sangat besar serta peluang ekspor yang terus terbuka, pemerintah optimistis industri ini mampu memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
"Industri tekstil, kulit, dan alas kaki bukan lagi dipandang sebagai sektor tradisional, melainkan industri masa depan yang mampu membawa produk Indonesia bersaing di pasar dunia. Setiap sepatu yang kita jahit membawa nama Indonesia di ruang-ruang ritel di seluruh dunia," kata Agus, dikutip Kamis 6 Agustus 2026.
Kementerian Perindustrian, lanjutnya, mencatat potensi pasar sepatu nasional mencapai sekitar Rp290 triliun per tahun, berdasarkan perhitungan dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Besarnya jumlah penduduk Indonesia yang mendekati 290 juta jiwa menjadi modal kuat bagi pertumbuhan industri dalam negeri.
Agus menegaskan pemerintah berkepentingan menjaga daya beli masyarakat agar kebutuhan pasar domestik dapat dipenuhi sebanyak mungkin oleh produk buatan Indonesia.
Selain memiliki pasar yang besar, industri tekstil, pakaian jadi, kulit, dan alas kaki juga berperan penting dalam penyerapan tenaga kerja. Saat ini, sektor tersebut mempekerjakan lebih dari 3,8 juta orang, sehingga peningkatan daya saing industri sekaligus berarti menjaga jutaan lapangan pekerjaan.
Kinerja industri juga menunjukkan tren positif. Sepanjang semester pertama 2026, nilai ekspor sektor tekstil, kulit, dan alas kaki mencapai sekitar 4,85 miliar dolar AS, sementara subsektor kulit dan alas kaki tumbuh 5,28 persen. Investasi di sektor ini juga melonjak dari sekitar Rp13,5 triliun pada 2024 menjadi Rp24 triliun pada 2025, dengan surplus perdagangan industri alas kaki mencapai 2,89 miliar dolar AS
Meski demikian, Agus menilai capaian tersebut masih harus terus ditingkatkan. Ia menyebut wajah industri alas kaki Indonesia saat ini mencerminkan tiga karakter utama, yakni tangguh, tumbuh, dan terpercaya.
Untuk mempercepat pertumbuhan, pemerintah mendorong pelaku industri melakukan modernisasi mesin, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memanfaatkan teknologi, serta menerapkan prinsip industri hijau.
Selain itu, pemerintah meminta pelaku usaha memanfaatkan implementasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) sebagai peluang memperluas ekspor. Pelaku industri diharapkan telah siap dari sisi kapasitas produksi, sertifikasi, hingga kualitas produk agar mampu memenuhi permintaan pasar internasional.
Pemerintah juga berkomitmen memperkuat iklim investasi melalui pemberian insentif, pengamanan perdagangan, transformasi industri 4.0, penerapan standar industri hijau, serta kolaborasi lintas sektor.
BERITA TERKAIT: