Peta Baru Bumi Setara

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/ahmadie-thaha-5'>AHMADIE THAHA</a>
OLEH: AHMADIE THAHA
  • Kamis, 10 September 2026, 06:17 WIB
Peta Baru Bumi Setara
Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi Penulis)
Kecil Besar
DI kelas, seorang anak SD belajar bahwa  peta adalah gambaran bumi. Ia mungkin belum tahu bahwa kalimat itu kurang tiga kata yang sangat bermakna yakni menurut cara tertentu. Lengkapnya adalah peta adalah gambaran bumi menurut cara tertentu.

Kata terakhir itu penting. Sebab bumi bulat, sedangkan buku tulis datar. Ketika bumi dipaksa masuk ke kertas gambar, pasti ada yang berubah. Luas bisa berubah. Bentuk bisa berubah. Jarak bisa berubah.

Dalam peta di atas kertas, barangkali arah bisa dipertahankan, tapi yang lain dikorbankan. Lagi pula, peta tentu bukan bumi. Ia adalah pilihan tentang bagian mana dari gambar bumi yang hendak dipertahankan.

Itulah sebabnya keputusan Majelis Umum PBB untuk mengganti peta dunia dengan versi baru pada 4 September sungguh menarik. Dengan suara 164 negara mendukung, satu menolak, dan enam abstain, PBB mengadopsi resolusi “Correct the Map” yang dipimpin negara kecil Togo dan didukung Uni Afrika.

Resolusi itu mendorong penggunaan proyeksi yang mempertahankan perbandingan luas benua, termasuk Equal Earth, terutama untuk pendidikan dan literasi  geografis. Untuk itu, Togo berkampanye di media sosial, membuat website khusus, bahkan bikin polling.

Dalam keputusannya yang ditolak Amerika Serikat satu-satunya, PBB tak melarang penggunaan peta lama buatan Mercator. PBB juga tak menetapkan satu peta untuk semua keperluan. Togo sendiri menegaskan bahwa proyeksi peta yang berbeda mempunyai kegunaan berbeda.

Ini penting karena berita tentang peta mudah sekali berubah menjadi berita tentang politik. Padahal persoalan yang menjadi alasan Togo lebih sederhana. Bagi Togo, kalau kita mau membandingkan luas wilayah, jangan memakai alat yang memang dirancang bukan untuk itu.

Peta buatan Mercator yang selama ini kita pakai adalah contoh yang bagus. Gerardus Mercator membuat proyeksi bumi dan memetakannya pada 1569. Tujuan utamanya, untuk kebutuhan navigasi bagi pelaut. Karena itu, dalam peta, ia menggambar garis dengan arah kompas yang tetap sebagai garis lurus.

Bagi pelaut, itu sangat berguna. Namun, konsekuensinya, wilayah yang semakin jauh dari khatulistiwa tampak semakin besar. Greenland, misalnya, di peta Mercator bisa tampak hampir sebesar Afrika. Padahal luas Afrika sekitar 14 kali Greenland.

Mercator tak pernah berniat mengecilkan Afrika. Ia sedang menyelesaikan masalah pelaut. Masalahnya muncul ketika peta untuk berlayar dipakai untuk membandingkan luas. Itu seperti menggunakan penggaris untuk menimbang beras. Penggarisnya tidak salah. Kita saja yang salah kamar.

-000-

Peta, sebenarnya, sudah lama menjadi cara manusia memilih apa yang dianggap penting. Jauh sebelum Mercator, manusia telah menggambar dunia dengan pengetahuan yang tersedia pada zamannya.

Tradisi Ptolemy kemudian memengaruhi kartografi Islam. Pada abad ke-12, al-Idrisi menyusun karya geografis besar yang selesai pada 1154. Ia menggabungkan pengetahuan Yunani dan Arab dengan laporan para pelancong serta pengamatan langsung.

Karyanya, seperti yang dikutip Ibnu Khaldun dalam kitab al-Muqaddimah, terdiri atas 70 peta bagian. Yang menarik, dalam peta al-Idrisi, utara tidak berada di atas. Peta itu berorientasi dengan selatan di atas, dengan Mekkah sebagai pusatnya.

Kalau peta itu yang kita pakai, anak sekolah sekarang mungkin akan mengatakan, “Pak, petanya terbalik.” Sebetulnya, tidak. Petanya tidak terbalik. Kita saja yang terbiasa dengan satu kebiasaan.

Itu pelajaran kecil yang sering hilang ketika peta hanya diajarkan sebagai gambar untuk dihafal. Kita hafal letak provinsi, ibu kota, gunung, sungai, dan negara. Kita jarang diajak bertanya: siapa yang membuat peta ini, untuk apa, dan apa yang dikorbankannya?

Padahal sejarah peta menunjukkan bahwa pengetahuan geografis tidak tumbuh dalam satu peradaban saja. Ptolemy memberi warisan penting. Para ilmuwan Muslim mengembangkan dan mengoreksi pengetahuan itu. Al-Idrisi menyusun pengetahuan dari berbagai sumber.

Tradisi geografis itu kemudian terus bergerak, diterjemahkan, dipakai, diperbaiki, dan bertemu dengan kebutuhan navigasi Eropa. Mercator adalah salah satu hasil dari perjalanan panjang tersebut.

-000-

Karena itu, perdebatan tentang peta tidak perlu menjadi lomba mencari siapa yang paling salah. Yang lebih menarik adalah melihat bagaimana sebuah alat yang dibuat untuk tujuan tertentu bisa berubah menjadi kebiasaan umum.

Peta Mercator sangat berguna untuk navigasi. Tapi ketika dipakai untuk membandingkan ukuran benua, ia membuat mata kita mendapat kesan yang keliru. Afrika tampak lebih kecil. Wilayah dekat kutub seperti Greenland tampak lebih besar. Distorsi yang awalnya matematis akhirnya menjadi distorsi persepsi.

Di sinilah keputusan PBB menjadi lebih dari urusan kartografi. Dalam alasan urgensi pengubahan petanya, Togo menyebut  peta membentuk cara manusia memahami dunia, pendidikan, imajinasi, dan persepsi kolektif.

Itu bukan perkara sepele. Anak yang setiap hari melihat sebuah benua tampak kecil tentu tidak otomatis menganggap bangsa di dalamnya kecil. Tapi pendidikan bekerja melalui pengulangan. Apa yang terus dilihat lama-lama terasa normal.

Indonesia pun punya alasan untuk memperhatikan perkara ini. Kita hidup di sekitar khatulistiwa. Kita juga negara kepulauan yang terbentang sangat panjang.

Di banyak peta dunia, Indonesia tampak seperti gugusan pulau yang tercecer. Sabang dan Merauke seolah dua nama yang kebetulan berjauhan. Padahal jaraknya membentuk salah satu kenyataan geografis terpenting negeri ini.

Peta yang lebih tepat dalam hal luas tidak otomatis membuat semua persoalan Indonesia menjadi selesai. Tapi ia membantu anak melihat dunianya dengan skala yang lebih masuk akal.

Karena itu, mungkin pelajaran peta di sekolah perlu sedikit diubah. Jangan hanya bertanya, “Ini negara apa?” Tambahkan pertanyaan: “Peta ini dibuat untuk apa?”

Kalau untuk navigasi, pilih proyeksi yang menjaga arah. Kalau untuk membandingkan luas, gunakan proyeksi equal-area. Kalau untuk melihat wilayah tertentu secara rinci, pilih proyeksi yang sesuai dengan wilayah dan tujuan  pemetaan.

Tidak ada satu proyeksi yang menjadi juara untuk semua pertandingan. Bahkan PBB sendiri menegaskan bahwa setiap proyeksi mempunyai komprominya masing-masing.

Dengan begitu, anak tidak hanya belajar membaca peta. Ia belajar membaca cara sebuah informasi disajikan.

Ini jauh lebih penting dari sekadar hafal bahwa Greenland berada di sana dan Afrika berada di sini. Sebab masalah yang sama ada di luar peta.

Grafik bisa membuat angka tampak dramatis. Foto bisa memilih sudut tertentu. Statistik bisa benar, tapi cara menampilkannya bisa menyesatkan. Algoritma juga memilih apa yang kita lihat dan apa yang tidak kita lihat.

Jadi, mungkin inilah pelajaran terbesar dari ribut-ribut tentang peta: jangan terlalu cepat percaya pada gambar yang tampak objektif. Sebuah peta bisa sangat ilmiah dan sekaligus sangat selektif.

Bumi tidak berubah ketika petanya diganti. Yang berubah adalah ukuran yang dipakai mata kita untuk melihatnya.

Dan bagi anak sekolah, itu mungkin pelajaran geografi yang paling berguna. Anak bukan hanya tahu di mana letak dunia, tapi juga tahu bagaimana dunia sedang dibuat terlihat di peta.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA