Seolah-olah kita merasa paling perlu mengetahui berapa harga dolar ke rupiah per detik.
Hidup-mati kita seolah-olah ditentukan oleh dolar, kendatipun sehari-hari kita masih menggunakan rupiah untuk membeli lontong sayur pagi ini.
Gejala musiman seperti yang dikatakan Gubernur Bank Indonesia agaknya keliru. Ini musim, di mana dolar sedang banyak dibutuhkan, dan setelah ini, maka rupiah akan kembali menguat terhadap dolar, ternyata sama sekali tak terbukti.
Bisa jadi Gubernur Bank Indonesia mengatakan itu, pada saat itu, untuk menenangkan rakyat agar tidak panik.
Padahal ia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ini memang bukan faktor musiman, tapi faktor cuaca yang tidak seperti biasanya.
Semua sedang beradaptasi dengan cuaca yang tidak seperti biasanya ini. Terutama, pengusaha besar yang melihat kebijakan yang berubah.
Mereka sedang menahan diri dan berhitung terhadap cuaca yang sedang terjadi.
Pemerintahan di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto benar-benar tak akan melanjutkan praktik cuaca yang sudah terjadi selama ini.
Berharap hasil yang berbeda, tapi masih melakukan cara lama, tak akan mungkin berhasil.
Stabil, nyaman, ada pertumbuhan, rutinitas jalan, tapi jarak antara orang kaya dan miskin semakin lebar, benar-benar dipotong secara serius oleh Prabowo.
Ratusan triliun digelontorkan secara terang-terangan kepada masyarakat.
Dahlan Iskan mengatakan Prabowo sedang bertaruh sangat besar. Bisa maju, tapi bisa juga semakin terpuruk.
Prabowo sama sekali tak mengulang, apa yang dilakukan para pendahulunya. Jalannya beda.
"Semua kemajuan hanya dibuat oleh orang yang risk taker, tidak ada orang yang safety player bisa membuat kemajuan," kata Dahlan Iskan di Podcast Disway, pagi ini.
Semoga saja Prabowo seorang
risk taker yang berhasil.
ErizalDirektur ABC Riset & Consulting
BERITA TERKAIT: