Prabowo dan Ultimatum Rakyat

Kamis, 05 Maret 2026, 00:30 WIB
Prabowo dan Ultimatum Rakyat
Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)
SUDAH banyak aspirasi atau desakan agar Prabowo atau Indonesia segera keluar dari Board of Peace (BoP) karena hal itu bertentangan dengan prinsip luar negeri bebas aktif, kebersamaan dalam gerakan non blok, Preambule UUD 1945, serta ideologi Pancasila. 

Demikian juga dengan dukungan konsisten selama ini untuk kemerdekaan bangsa Palestina serta mengecam pendudukan dan genosida Israel. Keanggotaan dalam BoP jelas merupakan kekeliruan dan kebodohan fatal.

Prabowo dalam keadaan dilematis atas sikap yang diambil tanpa pertimbangan matang dan persetujuan rakyat. Ancaman BRICS dan jebakan BoP harus menjadi bahan evaluasi serius. 

Serangan Israel dan Amerika atas Iran penting bagi penilaian. Bukan damai yang ada dalam benak Amerika dan Israel akan tetapi perang. BoP hanya wadah akal-akalan damai Amerika dan Israel.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menyikapi dengan tegas agar Indonesia mencabut keanggotaan BoP mengingat badan ini tidak akan efektif untuk  jalan kemerdekaan Palestina. Pernyataan MUI ini tertuang dalam Tausiyah No. 28/DP-MUI/III/2026 tanggal 1 Maret 2026 yang ditandatangani Ketum MUI KH Anwar Iskandar dan Sekjen Buya Amirsyah Tambunan di Jakarta.

Desakan MUI dan berbagai kelompok masyarakat lainnya patut  untuk menjadi perhatian serius Prabowo. Mengabaikannya, apalagi menolak, hanya menyebabkan kerja dan kinerja pemerintahan Prabowo berada dalam tekanan rakyat. 

Memperlambat keputusan sama saja dengan mempercepat ketidakpercayaan dan kejatuhan. Sopir yang mengabaikan peringatan dan menjalankan kendaraan dengan ugal-ugalan pasti membahayakan keselamatan.

Peringatan demi peringatan telah disampaikan mulai penggantian Kapolri, efektivitas MBG, ketergantungan Jokowi, status Gibran, budaya korupsi, reshuffle kabinet, impor jor-joran, penegakan hukum, hingga kekacauan politik luar negeri. Peringatan terakhir soal BoP menjadi sangat serius dan menentukan. Kualifikasinya menyimpang dari konstitusi dan ideologi.

Prabowo sendiri yang menyulut bom waktu agar cepat meledak. Ultimatum rakyat adalah keluar dari BoP atau keluar dari istana. Jika ambisi Prabowo ingin tetap menjadi Presiden maka pilihannya adalah keluar dari BoP. Sebaliknya jika lebih rela menjadi kacung Amerika dan Israel, maka segera bersiap-siap untuk tinggalkan istana.

Biarlah rakyat sendiri yang akan menentukan proses pergantian dalam rangka perbaikan dan penyelamatan. Pesawat Garuda yang dipiloti Prabowo dan ko-pilot Gibran ini sudah menjadi sasaran tembak Amerika dan Israel. Semua data dibocorkan oleh pilot pengkhianat dan akan beralih ke tangan mereka. Rudal BoP diarahkan dan siap diluncurkan. Waktu dan ruang menjadi sempit untuk menghindar dan bermanuver. rmol news logo article

M Rizal Fadillah
Pemerhati politik dan kebangsaan


Konten iklan di bawah berasal dari platform DISQUS, tidak terkait dengan pembuatan konten ini

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA