Perjalanan Gila Salman Al Farisi Mencari Kebenaran

Senin, 02 Maret 2026, 14:17 WIB
Perjalanan Gila Salman Al Farisi Mencari Kebenaran
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)
SALMAN AL FARISI bukan berdarah Arab, melainkan Persia (Iran sekarang). Dia melakukan perjalanan sangat jauh hanya untuk mencari kebenaran. 

Sekitar tahun 568 M, di Jayyan dekat Isfahan, di bawah kemegahan Kekaisaran Sassanid, lahirlah seorang anak bangsawan bernama Ruzbeh. 

Ayahnya Dihqan kaya raya, penjaga api suci Zoroastrian, tipe elite mapan yang yakin kekuasaan, tradisi, dan ritual bisa diwariskan seperti sertifikat tanah. 

Anak ini dijaga ketat. Dunia luar dianggap ancaman. Kebenaran dianggap sudah selesai dicetak dan distempel.

Namun sejarah sering kali lahir dari anak yang tidak puas dengan stempel. Ruzbeh melihat api kuil menyala, tetapi hatinya gelap. Ia mendengar doa kaum Nasrani dan merasakan sesuatu yang berbeda. 

Lalu ia melakukan tindakan paling berbahaya dalam sistem mana pun, berpikir sendiri. Ia kabur dari istana. 

Nuan bayangkan, seorang bangsawan meninggalkan fasilitas lengkap demi sesuatu yang belum pasti. 

Jika ini terjadi hari ini, mungkin ia sudah dituduh tidak nasionalis, tidak loyal pada tradisi, bahkan dicap pengkhianat ideologi keluarga.

Ia berpindah dari satu pendeta ke pendeta lain. Suriah, Mosul, Nisibis, Ammuriyyah. Ia belajar, mengabdi, menyapu gereja, menyimak kitab. 

Ia juga menemukan fakta pahit. Ada rohaniwan yang menimbun sedekah, hidup mewah atas nama Tuhan, dan akhirnya mati mengenaskan, disalib dan dirajam oleh pengikutnya sendiri ketika kebusukan terkuak. 

Sejarah seperti berbisik sinis, agama sering kali suci, tetapi pengelolanya belum tentu.

Guru terakhirnya, menjelang wafat, memberi bocoran penting. Akan datang nabi terakhir di tanah Arab. Tanda-tandanya jelas. 

Ia tidak makan sedekah, menerima hadiah, dan memiliki cap kenabian di punggungnya. Informasi itu menjadi GPS spiritual Ruzbeh.

Ia berangkat menuju jazirah Arab. Akan tetapi, takdir menguji lagi. Ia dikhianati dan dijual sebagai budak oleh suku Arab Kalb. 

Dari bangsawan menjadi komoditas pasar. Ironi ini terlalu keras untuk sekadar disebut drama. 

Anak elite berubah jadi rakyat paling bawah. Mungkin di sinilah ia belajar, status sosial itu rapuh. Hari ini dipuja, besok dijual.

Ia akhirnya tiba di Madinah sebagai budak milik seorang Yahudi Bani Qurayzah. Di kota itulah ia mendengar tentang Muhammad. 

Ia menguji tanda demi tanda. Kurma sebagai sedekah, tidak disentuh. Kurma sebagai hadiah, dimakan. Ia melihat cap kenabian di punggung Nabi. Pencarian puluhan tahun seperti menemukan titik akhir.

Ruzbeh masuk Islam dan diberi nama Salman. Nabi menebusnya dengan 300 pohon kurma dan 40 uqiyah emas. 

Para sahabat membantu menanam. Pohon yang ditanam Nabi berbuah. Salman merdeka. Dari budak menjadi sahabat. Dari orang asing menjadi bagian dari komunitas yang melampaui suku.

Tahun 5 Hijriah, Perang Khandak meletus. Sepuluh ribu pasukan Ahzab mengepung Madinah. Krisis total. Dalam situasi seperti itu biasanya orang sibuk cari kambing hitam. 

Namun Salman menawarkan solusi, gali parit. Strategi Persia. Asing bagi Arab. Rasul menerimanya. Parit digali. Pasukan Quraisy tertahan. Abu Sufyan kesal karena strategi itu bukan kebiasaan Arab. 

Di sini terlihat jelas, ketika ego suku dikesampingkan, keselamatan bersama ditemukan. Jika saja semua pemimpin politik mau belajar menerima ide bagus meski datang dari “orang luar”.

Ketika Muhajirin dan Anshar berselisih tentang siapa yang berhak mengklaim Salman, Nabi memutus polemik itu dengan kalimat monumental, “Salman dari kami, Ahlul Bayt.” Satu kalimat yang meruntuhkan rasisme. 

Seorang Persia, mantan budak, masuk lingkar keluarga Nabi. Tanpa tes DNA. Tanpa syarat darah biru. Hanya kualitas iman dan kontribusi.

Setelah Nabi wafat, Salman ikut ekspedisi ke Persia. Ia kembali ke tanah kelahirannya sebagai gubernur Al-Mada’in pada masa Khalifah Umar bin Khattab. 

Gajinya 5.000 dirham per tahun. Ia membagikan semuanya sebagai sedekah. Ia hidup dari menenun keranjang daun kurma. 

Pejabat yang tidak menimbun, tidak membangun istana pribadi, tidak memoles citra dengan baliho raksasa. 

Kesederhanaannya seperti tamparan halus bagi siapa pun yang mengira jabatan adalah kesempatan memperkaya diri.

Ia memahami dua tradisi kitab, bahkan menerjemahkan ayat-ayat Alquran ke bahasa Persia pada masa Nabi. Ali bin Abi Thalib memujinya dengan penuh hormat. 

Ia menegur Abu Darda agar tidak berlebihan dalam ibadah sampai melupakan hak keluarga. Nabi membenarkan nasihatnya. Keseimbangan menjadi prinsip, bukan slogan.

Salman wafat tahun 35 Hijriah di Al-Mada’in, usia sekitar delapan puluhan. Tidak mewariskan istana, tidak meninggalkan dinasti. Ia mewariskan integritas.

Perjalanan gila Salman Al-Farisi adalah bukti, kebenaran tidak tunduk pada kekuasaan, suku, atau propaganda. Ia berani meninggalkan istana demi iman. Ia berani menjadi budak demi keyakinan. Ia berani kembali memimpin tanpa tergoda dunia.

Di tengah zaman ketika orang sering membela tradisi tanpa berpikir, mengejar jabatan tanpa malu, dan mengaku suci sambil menimbun fasilitas, kisah Salman berdiri seperti cermin besar. 

Pertanyaannya sederhana, jika seorang bangsawan Persia saja berani mempertaruhkan segalanya demi kebenaran, kita yang hanya mempertaruhkan kenyamanan, apakah siap?

Nantikan kisah sahabat Rasulullah berikutnya!rmol news logo article

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
Konten iklan di bawah berasal dari platform DISQUS, tidak terkait dengan pembuatan konten ini

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA