Tariq bin Ziyad Mengguncang Kerajaan Spanyol

Jumat, 13 Maret 2026, 05:44 WIB
Tariq bin Ziyad Mengguncang Kerajaan Spanyol
Ilustrasi Tariq bin Ziyad. (Foto: Istimewa)
SEJARAH kadang seperti penulis skenario yang sedang iseng. Ia menaruh tokoh besar bukan di istana, bukan di keluarga kerajaan, bukan di dinasti yang penuh silsilah panjang seperti baliho politik menjelang pemilu. 

Ia malah memilih seorang lelaki dari Afrika Utara, seorang mantan budak yang dimerdekakan, lalu menjadikannya tokoh yang mengubah wajah Eropa. Nama lelaki itu adalah Tariq ibn Ziyad.

Awal abad ke-8 dunia Islam sedang meluas di bawah Kekhalifahan Umayyah. Afrika Utara sudah berada di bawah kendali gubernur tangguh bernama Musa ibn Nusair. Namun siapa sangka, orang yang kelak mengguncang benua Eropa bukanlah Musa sendiri, melainkan anak buahnya yang berasal dari suku Berber.

Menurut banyak kajian modern, termasuk yang dikaji sejarawan militer David Nicolle, Tariq adalah seorang mawla, yakni klien atau mantan budak yang telah dimerdekakan oleh Musa. 

Dalam bahasa politik modern, status seperti ini biasanya hanya cukup untuk menjadi staf ahli, bukan jenderal yang mengubah peta dunia. Namun sejarah punya selera humor yang kejam.

Asal-usul Tariq sendiri sempat menjadi teka-teki. Namun mayoritas sejarawan sepakat ia berasal dari suku Berber di Afrika Utara. 

Sejarawan besar Ibn Khaldun menyebutnya berasal dari wilayah yang kini termasuk Aljazair. Sementara sejarawan Andalusia Ibn Idhari bahkan menuliskan silsilah panjangnya dalam kitab Al-Bayan al-Maghrib: T?riq bin Ziy?d bin Abd All?h bin Walgh? bin Warfaj?m… hingga klan Berber Zenata dan Nefzawa.

Ada yang pernah mencoba mengklaim ia Persia atau Arab. Namun bukti sejarah paling kuat tetap menunjuk pada akar Berbernya. Ironisnya, lelaki yang berasal dari suku yang sering dipandang kelas dua oleh elite Arab inilah yang kelak menumbangkan kerajaan besar di Eropa. 

Pelajaran kecil dari sejarah, kadang dunia diubah bukan oleh pewaris takhta, melainkan oleh orang yang bahkan tidak punya takhta.

Di Afrika Utara, Tariq dipercaya oleh Musa memimpin kota Tangier. Dari kota inilah ia menatap sebuah daratan di seberang laut, sebuah wilayah yang saat itu dikenal sebagai Hispania.

Di sana berdiri kerajaan Visigoth dengan rajanya yang terkenal problematik, Roderic. Naiknya Roderic ke takhta tidak berlangsung mulus. Ia merebut kekuasaan dalam situasi konflik dengan keluarga Wittiza. 

Kerajaan Visigoth saat itu seperti pemerintahan koalisi yang penuh intrik. Semua tampak bersatu di depan, tetapi di belakang masing-masing sudah menyiapkan pisau.

Drama semakin menarik ketika muncul tokoh bernama Count Julian, penguasa wilayah Ceuta. Menurut kronik sejarah yang populer, kemarahannya dipicu oleh tindakan Roderic yang memperkosa putrinya, Florinda la Cava, yang dikirim ke istana untuk dididik. Dendam pribadi ini berubah menjadi konspirasi geopolitik kelas dunia.

Julian kemudian menawarkan sesuatu yang luar biasa kepada pasukan Muslim, kapal. Banyak kapal. Ia bersedia membantu menyeberangkan pasukan dari Afrika Utara ke Spanyol.

Namun sebelum invasi besar dilakukan, dilakukan uji coba kecil. Tahun 710 M, sekitar 500 pasukan dipimpin Tarif ibn Malik menyeberang dan mendarat di pesisir Iberia. Ekspedisi ini berhasil pulang dengan rampasan perang. Artinya satu, wilayah itu bisa ditaklukkan.

Maka tibalah malam bersejarah pada 28 April 711 M. Sekitar 7.000 pasukan Muslim, sebagian besar prajurit Berber, menyeberangi laut. 

Mereka mendarat di sebuah tanjung berbatu yang kemudian dikenal sebagai Jabal Tariq, yang dalam bahasa Spanyol berubah menjadi Gibraltar.

Gunung itu dinamai dari nama panglimanya sendiri.

Di sinilah legenda paling dramatis lahir. Setelah pasukan mendarat, Tariq mengumpulkan mereka. Ia tahu sesuatu yang brutal. Di depan mereka ada kerajaan besar. Sementara jumlah pasukan mereka hanya sekitar 7.000 orang.

Menurut kisah yang kemudian ditulis sejarawan seperti Al-Maqqari, Tariq menyampaikan pidato yang mengguncang jiwa:

"Wahai para prajurit, ke manakah kalian akan lari? Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian. Tidak ada yang kalian miliki selain kesabaran dan keteguhan hati... 

Ketahuilah bahwa aku akan berada di barisan terdepan dalam serangan ini. Saat kedua pasukan bertemu, kalian akan melihatku. Aku tidak akan pernah lari dari medan perang ini." 

Legenda lain menyebut ia memerintahkan kapal-kapal dibakar. Kisah ini muncul dalam sumber yang lebih kemudian seperti tulisan Al-Idrisi. Apakah kapal benar-benar dibakar? Sejarawan masih berdebat. Namun simbolismenya luar biasa, tidak ada jalan pulang.

Pasukan kecil itu kini seperti anak panah yang sudah dilepaskan dari busur.

Tidak lama kemudian pecah pertempuran besar di Sungai Guadalete pada 19–26 Juli 711 M. Di satu sisi berdiri pasukan Tariq yang akhirnya berjumlah sekitar 12.000 setelah mendapat tambahan dari Musa. Di sisi lain berdiri tentara Visigoth yang disebut mencapai 40.000 hingga bahkan 100.000 orang.

Perbandingan ini seperti lomba lari antara sepeda motor melawan kereta barang. Secara logika, hasilnya sudah jelas. 

Namun sejarah sering menertawakan logika. Pertempuran berlangsung delapan hari. Strategi Tariq yang cerdik, semangat pasukan Berber yang membara, serta pembelotan sebagian pendukung Wittiza membuat barisan Visigoth runtuh. Raja Roderic tewas di medan perang.

Dengan kematian Roderic, kerajaan Visigoth praktis ambruk. Tariq bergerak cepat. Ia membagi pasukan menjadi beberapa brigade. Cordoba direbut oleh komandan Mughith al-Rumi. Sementara Tariq sendiri bergerak menuju ibu kota Visigoth, Toledo.

Kota itu jatuh hampir tanpa perlawanan. Dalam waktu singkat sebagian besar Semenanjung Iberia berada di tangan Muslim. Sebuah penaklukan yang bahkan mungkin tidak pernah dibayangkan oleh para prajurit Berber yang menyeberangi laut beberapa bulan sebelumnya.

Tahun 712 M, Musa ibn Nusair datang dengan 18.000 pasukan tambahan, sebagian besar Arab. Hubungan antara sang gubernur dan panglima lapangan sempat tegang. Musa bahkan disebut sempat memenjarakan Tariq karena bergerak terlalu cepat tanpa menunggu.

Sejarah mencatat drama kecil ini dengan nada ironis: orang yang menaklukkan setengah Spanyol malah sempat dipenjara oleh atasannya sendiri. Birokrasi memang kadang lebih menakutkan dari perang.

Pada tahun 714 M, Khalifah Umayyah Al-Walid I memanggil Musa dan Tariq kembali ke Damaskus. Mungkin khalifah mulai khawatir dua jenderal yang terlalu sukses di wilayah jauh bisa menjadi terlalu populer.

Setelah kembali ke Damaskus, kehidupan Tariq menjadi kabur dalam sejarah. Banyak sumber menyebut ia hidup sederhana hingga wafat sekitar 720 M. Tidak ada istana besar. Tidak ada dinasti. Tidak ada kerajaan atas namanya. Namun warisannya jauh lebih besar dari mahkota apa pun.

Nama Gibraltar, yang berasal dari Jabal Tariq, masih berdiri kokoh di ujung selatan Spanyol. Penaklukan yang ia mulai membuka era Andalusia, peradaban Islam yang bertahan hampir delapan abad hingga 1492. 

Dari kota-kota seperti Cordoba, Granada, dan Toledo lahir kemajuan ilmu pengetahuan, matematika, filsafat, dan arsitektur yang kelak ikut memicu Renaisans Eropa.

Begitulah kisah seorang lelaki Berber yang menyeberangi laut dengan 7.000 prajurit, menghadapi puluhan ribu tentara, dan menjatuhkan sebuah kerajaan. 

Ia tidak lahir sebagai raja. Ia tidak meninggalkan dinasti. Namun namanya diabadikan oleh sebuah gunung, sebuah selat, dan sebuah bab besar dalam sejarah dunia.

Kadang dunia memang berubah bukan oleh mereka yang sibuk berebut kursi kekuasaan, tetapi oleh mereka yang berani menyeberangi laut ketika orang lain masih sibuk berdebat di darat.

“Bang, di Indonesia, banyak orang tua memberi nama anaknya dengan nama Tariq atau Torik. Apakan terinspirasi dari Tariq bin Ziyad?”

“Bisa jadi demikian, wak. Si orang tua itu pasti pernah mendengar kisah kehebatan Tariq itu.”rmol news logo article

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA