Laut bahkan sudah menghubungkan Nusantara dengan Cina melalui jejaring maritim sejak sebelum masehi. Perspektif maritim ini juga yang dipakai dalam membingkai tulisan-tulisan pada jilid tiga buku
Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global (2026). Jilid ini fokus membahas sejarah awal keterhubungan Nusantara dengan dunia global, dalam hal ini Timur Tengah dan tentu saja, Islam.
Umumnya, sejarawan menyepakati bahwa Islam yang berasal dari Arab dibawa oleh para saudagar yang sekaligus pendakwah melalui India. Umumnya juga, para penulis sejarah awal Islamisasi di Nusantara belum terlalu yakin, apakah pada abad 8 M dan 9 M Islam telah benar-benar hadir di Nusantara, mengingat bukti-bukti artefak dan manukrip yang ada lebih menguatkan teori bahwa Islam baru mulai meninggalkan jejaknya di Nusantara pada awal ke-13.
Nah, lepas dari perdebatan itu, jilid tiga buku Sejarah Indonesia menegaskan bahwa proses pertemuan dengan Muslim asal Timur Tengah telah terjadi di Nusantara sejak abad pertama hijriah atau abad 7 M, seiring dengan intensifikasi aktivitas ekonomi di pusat-pusat perdagangan internasional di kawasan ini.
Pembahasan tentang jaringan perdagangan global melalui jalur laut, yang melibatkan wilayah-wilayah Nusantara, menjadi menu pembahasan di bagian awal. Nusantara tidak hanya menerima pengaruh, melainkan juga memberi kontribusi besar terciptanya peradaban kosmopolit, yang kelak menjadi “tanah gembur” persemaian peradaban Eropa di Nusantara.
Pembaca buku Sejarah Indonesia akan menemukan jilid tiga ini sebagai kesinambungan tema jaringan kemaritiman yang dibahas pada dua jilid sebelumnya, yang membahas proses perjumpaan antara Nusantara dengan India pada abad 2 hingga 4 M. Bahkan, jilid tiga juga menjadi landasan penting untuk memahami tema tentang penguatan aktivisme dan intelektualisme Islam yang dibahas di jilid empat.
Pembeda Jilid TigaPenemuan arkeologis hasil ekskavasi di Situs Bongal, Sumatra Utara, menjadi titik krusial pembeda jilid tiga, yang semakin meyakinkan adanya jejak-jejak Islam di Nusantara paling awal. Sejumlah koin Islam, misalnya, ditemukan di kaki bukit Bongal, yang terletak di Desa Jago-jago, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Koin bertuliskan ayat-ayat suci al-Qur’an ini dibuat di Basrah, Irak, pada tahun 76 H/698 M di masa Dinasti Bani Umayyah, pimpinan Khalifah Abdul Malik bin Marwan.
Sebagai pelabuhan, Bongal diyakini pernah menjadi pusat pelayaran dan perdagangan penting di masa lalu. Sumber daya alam seperti getah dan kayu harum dari hutan tropis, termasuk cendana, gaharu, dan kapur (kaafuur), merupakan komoditas utama yang diperdagangkan. Kapur dari hutan Sumatera dikenal luas dan sangat diminati oleh bangsa-bangsa besar seperti Arab, Mesir, dan Mesopotamia. Penyebutannya dalam al-Qur’an (Surat al-Insan: 5) menunjukkan nilainya dalam peradaban Islam dan menjadi petunjuk awal hubungan maritim antara Arab dan Nusantara jauh sebelum masa Nabi Muhammad.
Bukti-bukti arkeologis di atas boleh ditafsirkan sebagai isyarat bahwa meski belum memeluk Islam, Nusantara awal abad 7 M sudah menjadi tempat yang nyaman bagi para pendatang. Sifat kosmopolis masyarakat di Kerajaan Sriwijaya (disebut Zabaj atau Sribuza dalam sumber-sumber Islam) nampak dalam hal keterbukaannya terhadap infiltrasi Islam.
Kerajaan Maritim ini memainkan peran krusial sebagai simpul perdagangan yang memungkinkan tumbuhnya kantong-kantong pedagang Muslim sejak abad 7 M. Bukti-bukti artefak arkeologis, teks manuskrip, maupun bukti monumental seperti Bangkai Kapal yang tenggelam di Belitung mengonfirmasi terjadinya interaksi intensif antara Sriwijaya dan dunia Islam Timur Tengah.
Bukti kehadiran komunitas Muslim yang lebih permanen semakin nampak di pesisir barat Sumatra sejak abad ke-9 M dengan ditemukannya ribuan artefak kaca dan tembikar Islam di situs Lobu Tua. Seiring waktu, terutama setelah abad 12 M, komunitas ini berkembang menjadi masyarakat Muslim yang menetap dan berasimilasi, yang dibuktikan dengan ribuan nisan kuno yang menampilkan peradaban Islam lokal yang unik dengan perpaduan gaya pra-Islam, Persia, dan Aceh.
Selain itu, Lamuri (Lamreh), di ujung utara Sumatra juga diketahui sebagai bandar persinggahan strategis yang tercatat dalam sumber-sumber Arab, Cina, dan Eropa. Temuan arkeologis di situs Lamreh mengungkap keberadaan sebuah kesultanan Islam pada abad ke-15 M, yang dibuktikan oleh nisan-nisan sultan seperti Sultan Muhammad Sulaiman (w. 1404 M). Seni nisan di Lamuri menunjukkan akulturasi budaya, menggabungkan kaligrafi Arab dengan motif pra-Islam seperti padma (teratai).
Akar Islam InklusifBangsa Indonesia sangat beruntung mewarisi akar tradisi Islam yang inklusif dan kosmopolit sejak awal kedatangannya. Narasi jilid tiga buku Sejarah Indonesia ini penting dipahami sebagai akar identitas keberagamaan masyarakat Indonesia yang sangat majemuk, toleran, dan mampu beradaptasi dengan perubahan. Ketika pengaruh Islam merangsek istana kerajaan di Nusantara, kehadirannya tidak menimbulkan kehancuran peradaban, melainkan terintegrasi ke dalam struktur sosial dan politik, dan melahirkan peradaban baru yang mengesankan.
Islam juga tidak menggantikan tradisi lokal secara total, melainkan beradaptasi, memperkaya, dan menyatu sebagai budaya. Tradisi literasi saling bersinggungan, teks Jawa ditulis dengan aksara Pégon, teks Mahabarata disalin dengan aksara Jawi (Arab-Melayu). Buahnya adalah terjadinya proses intensifikasi Islamisasi di Nusantara antara abad ke-14 M hingga ke-17 M, melalui peran sentral kerajaan-kerajaan Islam.
Salah satu puncak pencapaian islamisasi di Nusantara adalah lahirnya metode dakwah ala Wali Songo. Wali Songo, yang secara harfiah berarti 'sembilan wali', merupakan figur sentral yang tidak hanya menyebarkan ajaran Islam tetapi juga membentuk lanskap sosial, politik, dan budaya Jawa.
Mereka diyakini berhasil mengislamkan mayoritas masyarakat Jawa melalui pendekatan dakwah yang damai, akomodatif, dan adaptif terhadap kepercayaan serta budaya lokal yang telah mengakar, terutama tradisi Hindu-Buddha dan animisme. Keberhasilan mereka terletak pada pendekatan dakwah yang mengedepankan kebijaksanaan, kedamaian, dan penghormatan terhadap budaya lokal tersebut.
Benar, Wali Songo hanya fenomena kultural di Jawa. Namun, polanya sesungguhnya juga terjadi di wilayah lain di Nusantara. Dakwah inklusif, mengokomodasi budaya lokal, toleran, adalah warisan peradaban yang hingga kini menjadi fondasi penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Dialog harmonis antara agama dan budaya adalah kunci penyebaran nilai-nilai luhur yang langgeng.
Membaca jilid tiga buku Sejarah Indonesia, dapat menjadi cara untuk menemukan kembali identitas ke-Indonesia-an kita (re-inventing Indonesian identity), bahwa kita adalah bangsa besar yang memiliki peradaban dan literasi tinggi. Laut menjadikan kita bangsa yang terbuka pada dunia, bukan hanya mengambil inspirasi, tapi juga memberi kontribusi. Laut penghubung peradaban!
Prof. Oman FathurahmanEditor Buku SNI Jilid 3, Guru Besar Filologi FAH UIN Jakarta, Pengampu Ngariksa
BERITA TERKAIT: