Semuanya bertemu di satu titik koordinat. Di detik yang sama. Tanpa saling tabrak. Tanpa terdeteksi. Ini bukan lagi operasi militer. Ini sihir logistik.
Mari kita bedah jeroannya. Agar kita tahu betapa mengerikannya dunia tempat kita hidup sekarang.
Orkestrasi Hantu Langit
Yang terjadi di udara itu sebuah mahakarya teknis.Di lapisan paling atas, ada E-3 Sentry. Pesawat radar piringan jamur itu. Ia jadi dirigen. Mengatur lalu lintas tempur agar tidak kacau.
Di bawahnya, ada F-35 Lightning II. Perhatikan detail ini: F-35 tidak menembakkan satu peluru pun.
Tugasnya cuma satu: menjadi "pengendus". Sensor fusion-nya menyedot semua sinyal elektronik dari daratan Venezuela. Begitu radar S-300 buatan Rusia milik Venezuela menyala, F-35 mengirim data ke belakang.
Di sana sudah menunggu EA-18G Growler. Pesawat perang elektronika. Boom! Bukan bom yang dijatuhkan. Tapi sinyal jamming bertenaga tinggi.
Layar radar di Caracas tidak meledak. Hanya memutih. Buta total. Operator radar Venezuela cuma bisa bengong melihat semut di layar monitor.
Saat buta itulah, tamu utamanya masuk. Resimen Operasi Khusus Penerbangan ke-160. Julukannya Night Stalkers. Mereka membawa helikopter MH-47 Chinook.
Terbangnya sinting. Hanya 30 meter di atas ombak Laut Karibia. Memanfaatkan sea clutter (gangguan ombak) untuk sembunyi dari sisa-sisa radar.
Mereka mendarat di jantung kota. Delta Force turun. FBI turun. Lima jam. Selesai. Presiden Nicolás Maduro diangkut ke kapal induk USS Iwo Jima. Seperti paket kilat JNE.
Ruang Server dan AI Kematian
Tapi tunggu dulu. Pasukan elite itu cuma penyapu sampah. Pembunuh aslinya tidak memegang senapan. Ia duduk manis di dalam kabel optik bawah laut. Sebulan lalu, Amerika diam-diam menyebar senjata baru: AI Finansial. Dulu, sanksi ekonomi itu manual. Orang mengecek dokumen satu-satu.
Sekarang? Algoritma yang bekerja. AI ini ganas. Ia tidak memburu nama perusahaan. Ia memburu pola. Ada kapal tanker Venezuela mau beli bahan bakar di tengah laut? AI mendeteksi pola transfer uangnya. Lewat Panama. Lewat Hong Kong. Klik langsung diblokir.
Kapal-kapal tanker itu menjadi bangkai besi terapung. Mesinnya hidup, tapi tak bisa bergerak. Asuransi maritim dari London diputus otomatis. Biaya sandar pelabuhan ditolak. Logistik Venezuela dicekik sampai biru. Tanpa bensin, tank tidak jalan. Tanpa uang, jenderal tidak setia.
Maduro jatuh bukan karena kalah perang. Ia jatuh karena "dompet"-nya dimatikan dari jarak 4.000 kilometer.
"Lawfare": Perang Gaya Baru
Yang bikin saya merinding bukan pesawatnya. Tapi penumpangnya. Ada agen FBI Hostage Rescue Team (HRT). Kenapa bawa polisi? Ini cerdiknya. Liciknya. Amerika ingin membingkai ini bukan sebagai "Invasi Militer" (itu melanggar PBB).
Mereka membingkainya sebagai "Penegakan Hukum" (menangkap buronan narkoba). Konsep kedaulatan negara (Westphalian Sovereignty) resmi jadi sampah. Batas negara dianggap tidak ada. Hukum Amerika berlaku di seluruh dunia. Ekstrateritorial.
Kalau mereka mau ambil orang di Jakarta, di Moskow, di Caracas, mereka pakai dalih "surat perintah penangkapan". Ini namanya Lawfare. Perang menggunakan hukum sebagai senjata.
Puing-Puing Geopolitik
Kasihan Rusia. Vladimir Putin pasti sedang minum vodka sambil sakit kepala. Venezuela itu "kapal induk daratan" Rusia di Amerika Latin. Tempat parkir pesawat pembom nuklir Tu-160 Blackjack.
Investasi Rosneft miliaran dolar di sana. Dalam satu malam, aset itu hangus. Rusia kehilangan pijakan strategisnya. Tanpa sempat menarik pelatuk. China juga sama. Utang Venezuela ke Beijing mungkin tak akan pernah kembali.
Alarm untuk Kita
Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Membaca berita Caracas ini rasanya getir. Pahit. Kita punya Nikel, kita punya laut dan kita seksi.
Tapi lihat diri kita di cermin. Radar kita? Masih banyak yang bolong. Sistem bank kita? Masih numpang jalur pipa SWIFT punya Barat. Data kita? Masih di cloud asing.
Operasi Caracas mengajarkan satu hal: Kedaulatan tanpa teknologi itu omong kosong. Diplomasi tanpa otot siber itu cuma puisi cengeng. Jika besok kita dianggap "nakal" entah tiba-tiba karena hilirisasi atau karena vokal di PBB, siapkah kita?
Siapkah jika tombol "OFF" ditekan dari Washington? Siapkah jika bank kita offline dan pesawat tempur asing sudah ada di atas Monas tanpa terdeteksi? Di meja makan raksasa dunia hari ini, pilihannya cuma dua.
Anda duduk memegang garpu sebagai pemain atau telanjang di atas piring sebagai menu santapan. Caracas sudah jadi menu. Semoga kita lekas bangun. Sebelum ikut dimakan.
Dr. Efatha Filomeno Borromeu Duarte
Dosen Ilmu Politik Universitas Udayana
BERITA TERKAIT: