Sejak berangkat dari terminal Lebak Bulus cuaca memang buÂruk, hujan turun dengan lebatnya. Si pengemudi nampak gugup dan karena sulit melihat pandangan di depannya, dia sering menginjak rem dengan tiba-tiba, padahal tidak ada apa-apa yang melintas di depannya. Sopir tersebut adaÂlah sopir pengganti dan terlihat tidak terampil menangani kendali bus Transjakarta itu.
Bus Transjakarta memang seÂring digunjingkan karena aturanÂnya yang berubah-ubah. Lihat saÂja di jalur Ragunan – Dukuh Atas. Beberapa kali dilakukan razia yang menilang kendaraan roda dua atau empat yang masuk ke jaÂlur bus Transjakarta terÂsebut, sehingga tidak ada satu pun kenÂdaraan yang berada di jalur bus tersebut, termasuk kenÂdaraan militer.
Maka waktu tempuh bus terseÂbut menjadi lebih cepat dan baÂnyak orang yang senang memanÂfaatkan jasa bus tersebut. Namun beberapa hari kemudian ketika peÂngawasannya melemah, 1-2 kendaraan mencoba memasuki jalur bus tersebut dan ketika tidak ada sanksinya, beramai-ramai orang memasuki jalur tersebut seÂhingga waktu tempuh pun menÂjadi lebih lama.
Di halte Dukuh Atas dan di beÂbeÂrapa halte yang lain, para maÂnuÂla, ibu-ibu yang hamil atau penÂderita cacat diizinkan memasuki bus Transjakarta melalui pintu kedatangan. Karena kurangnya pengawasan dan disiplin, kini siaÂpaÂpun bisa memasuki pintu khuÂsus tersebut sehingga berdesak-desakan.
Semula bus TransjakarÂta juga menerapkan aturan untuk tidak memperbolehkan penumÂpangÂnya makan dan minum di daÂlam bus, namun kini aturan terseÂbut tidak diterapkan lagi, akibatÂnya terlihat kotoran di dalam bus.
Ketidakdisiplinan tersebut juga terlihat ketika para penumpang tidak mengikuti lagi aturan agar waÂnita naik dari pintu depan seÂdang para pria naik dari pintu beÂlaÂkang. Ketidakdisiplinan ini mengÂakibatkan banyaknya copet beraksi dan pelecehan pun semÂpat sering terjadi.
Di terminal Pulo Gadung, bila terjadi banjir sering kali Bus TransÂjakarta tidak bisa beroperasi kaÂrena macetnya terminal tersebut. Di terminal Blok M, saya pernah berÂdesakan menunggu bus TransÂÂÂjakarta, karena pengemuÂdinya sedang menghabiskan rokoknya, tepat di depan mata para penumpang yang sedang menunggu. Ketidakdisiplinan ini pula yang menyebabkan Bang Foke menjadi bulan-bulanan sinÂdiran masyarakat.
Koentjoro Koesnoeljakin, 007/BG/FPRM/0911
BERITA TERKAIT: