Aturan Bus Transjakarta Mesti Tegas Dong

Sabtu, 30 Oktober 2010, 06:50 WIB
Aturan Bus Transjakarta Mesti Tegas Dong
RMOL. Minggu pertama Oktober 2010 sekitar pukul 17.30, sebuah bus Transjakarta ber­nomor polisi B 7027 IF me­nabrak sebuah shelter di Kebayo­ran Lama. Saya me­num­pangi bus tersebut dari Lebak Bulus, namun beruntung telah tu­run dua halte sebelum halte ter­sebut. Seorang tewas dan lainnya lagi luka-luka.

Sejak berangkat dari terminal Lebak Bulus cuaca memang bu­ruk, hujan turun dengan lebatnya. Si pengemudi nampak gugup dan karena sulit melihat pandangan di depannya, dia sering menginjak rem dengan tiba-tiba, padahal tidak ada apa-apa yang melintas di depannya. Sopir tersebut ada­lah sopir pengganti dan terlihat tidak terampil menangani kendali bus Transjakarta itu.

Bus Transjakarta memang se­ring digunjingkan karena aturan­nya yang berubah-ubah. Lihat sa­ja di jalur Ragunan – Dukuh Atas. Beberapa kali dilakukan razia yang menilang kendaraan roda dua atau empat yang masuk ke ja­lur bus Transjakarta ter­sebut, sehingga tidak ada satu pun ken­daraan yang berada di jalur bus tersebut, termasuk ken­daraan militer.

Maka waktu tempuh bus terse­but menjadi lebih cepat dan ba­nyak orang yang senang meman­faatkan jasa bus tersebut. Namun beberapa hari kemudian ketika pe­ngawasannya melemah, 1-2 kendaraan mencoba memasuki jalur bus tersebut dan ketika tidak ada sanksinya, beramai-ramai orang memasuki jalur tersebut se­hingga waktu tempuh pun men­jadi lebih lama.

Di halte Dukuh Atas dan di be­be­rapa halte yang lain, para ma­nu­la, ibu-ibu yang hamil atau pen­derita cacat diizinkan memasuki bus Transjakarta melalui pintu kedatangan. Karena kurangnya pengawasan dan disiplin, kini sia­pa­pun bisa memasuki pintu khu­sus tersebut sehingga berdesak-desakan.

Semula bus Transjakar­ta juga menerapkan aturan untuk tidak memperbolehkan penum­pang­nya makan dan minum di da­lam bus, namun kini aturan terse­but tidak diterapkan lagi, akibat­nya terlihat kotoran di dalam bus.

Ketidakdisiplinan tersebut juga terlihat ketika para penumpang tidak mengikuti lagi aturan agar wa­nita naik dari pintu depan se­dang para pria naik dari pintu be­la­kang. Ketidakdisiplinan ini meng­akibatkan banyaknya copet beraksi dan pelecehan pun sem­pat sering terjadi.

Di terminal Pulo Gadung, bila terjadi banjir sering kali Bus Trans­jakarta tidak bisa beroperasi ka­rena macetnya terminal tersebut. Di terminal Blok M, saya pernah ber­desakan menunggu bus Trans­­­jakarta, karena pengemu­dinya sedang menghabiskan rokoknya, tepat di depan mata para penumpang yang sedang menunggu. Ketidakdisiplinan ini pula yang menyebabkan Bang Foke menjadi bulan-bulanan sin­diran masyarakat.

Koentjoro Koesnoeljakin, 007/BG/FPRM/0911

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA