Polri-TNI-BIN Mampu Tangani Isu Black September

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/diki-trianto-1'>DIKI TRIANTO</a>
LAPORAN: DIKI TRIANTO
  • Jumat, 18 September 2026, 22:29 WIB
Polri-TNI-BIN Mampu Tangani Isu Black September
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. (Foto: Dok. Polri)
Kecil Besar
rmol news logo Isu "Black September" yang belakangan menyebar di tengah masyarakat dan media sosial diyakini bisa ditangani dengan baik oleh sinergi Polri, TNI dan BIN. Masyarakat tidak perlu terjebak dalam kecemasan berlebihan, meski isu tersebut tetap perlu disikapi secara proporsional.

"Meski wacana ini memanfaatkan momen historis, bukan indikasi ancaman yang tak tertanggulangi. Percayalah, Polri, BIN, dan TNI memiliki kapabilitas dan pengalaman yang terbukti dalam menjaga keamanan nasional," ujar analis politik dan isu intelijen Boni Hargens di Jakarta, Jumat, 18 September 2026.

Boni menjelaskan, istilah "Black September" merujuk pada kekhawatiran mengenai kemungkinan aksi yang disebut-sebut bertujuan mengganggu stabilitas politik pada September.

Ia menilai bulan September memiliki resonansi historis dan politik yang kuat di Indonesia sehingga mudah dikaitkan dengan berbagai isu.

"Bulan September memang sarat dengan momen-momen bersejarah penting di Indonesia, dan hal itulah yang menjadi daya tarik bagi pihak-pihak tertentu untuk memanfaatkannya," jelasnya.

Boni mencontohkan Tragedi Semanggi II pada 24 September 1999 yang terjadi saat demonstrasi mahasiswa menolak Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (RUU PKB).

Ia menduga narasi "Black September" dapat memanfaatkan memori atas berbagai peristiwa tersebut untuk membangun kecemasan publik. Namun ia menilai kapasitas aparat keamanan menjadi salah satu faktor yang dapat menjaga stabilitas apabila terjadi gangguan keamanan.

"Polri bersama BIN dan TNI sudah memiliki rekam jejak yang kuat dalam menangani kerusuhan politik," ujarnya.

Boni juga mengingatkan bahwa penyebaran narasi ketakutan dapat memperbesar dampak psikologis sebuah isu di masyarakat.

"Ketakutan yang berlebihan terhadap wacana Black September justru memperkuat efek dari gerakan itu sendiri. Narasi ketakutan adalah bagian dari strategi destabilisasi yang ingin dicapai para pelakunya," lanjut dia.

Karena itu, Direktur Eksekutif Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) tersebut meminta masyarakat tetap tenang dan tidak membesar-besarkan informasi yang belum terverifikasi.

Menurut Boni, menjaga stabilitas nasional merupakan tanggung jawab bersama antara aparat keamanan dan masyarakat.

"Masyarakat tidak perlu mengabaikan wacana ini, tetapi juga jangan membesar-besarkannya hingga menimbulkan kecemasan sosial yang kontraproduktif," tutupnya.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: DIKI TRIANTO

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.