Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani melaporkan hal tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto saat rapat penanganan bencana di NTT, Rabu, 26 Agustus 2026.
Dikatakan bahwa sistem peringatan dini telah bekerja cepat sejak gempa terjadi. Kecepatan penyampaian peringatan tersebut dinilai turut membantu meminimalkan dampak tsunami yang melanda sejumlah wilayah di bagian utara Pulau Flores.
BMKG juga disebut memiliki 2.000 aloptama (alat operasional utama) sensor kegempaan, dengan 175 di antaranya berada di NTT.
“Ketika terjadi gempa, maka kurang dari 3 menit kita harus menginformasikan dan menyampaikan potensi tsunami akan terjadi di mana. Jadi tepat 2 menit 16 detik, BMKG mengumumkan ke semua kanal, semua media, sehingga masyarakat dapat mengambil tindakan penyelamatan sebelum tsunami terjadi,” ujarnya.
Selain memperkuat sistem peringatan dini, pemerintah bersama pemerintah daerah dan BMKG terus memberikan edukasi kepada masyarakat untuk meredam kekhawatiran terkait potensi gempa susulan maupun tsunami.
Edukasi tersebut dilakukan dengan memberikan pemahaman mengenai kondisi kegempaan dan langkah yang perlu dilakukan masyarakat.
“Nah sekarang sudah mulai kembali ke rumah, rumahnya juga kondisinya satu lantai dan jarang-jarang. Ini kadang mengambil bantuan ke posko, tapi nanti kembali ke rumah jika kerusakannya ringan, tidak membahayakan. Ini kami memberikan pemahaman seperti itu,” jelasnya.
BERITA TERKAIT: