Prabowo Resah, Indonesia Bisa B50 Tapi Sulit Masuk Piala Dunia

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/hani-fatunnisa-1'>HANI FATUNNISA</a>
LAPORAN: HANI FATUNNISA
  • Kamis, 09 Juli 2026, 16:47 WIB
Prabowo Resah, Indonesia Bisa B50 Tapi Sulit Masuk Piala Dunia
Presiden Prabowo Subianto (Foto: RMOL/Hani Fatunnisa)
rmol news logo Presiden Prabowo Subianto mengaku masih menyimpan kegelisahan di tengah keberhasilan pemerintah meluncurkan Biodiesel B50. 

Menurutnya, meski Indonesia telah mampu mewujudkan lompatan besar di sektor energi, masih ada satu target nasional yang belum tercapai, yakni membawa Tim Nasional Indonesia tampil di Piala Dunia.

"Yang masih kita sulit adalah masuk Piala Dunia, nah itu saya masih resah. Jadi saya resah, terus terang saja saya resah. Kita bisa B50 tapi tidak bisa masuk Piala Dunia, saya masih tidak puas. Saya tidak puas," ujarnya saat memberikan sambutan di peluncuran Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis, 9 Juli 2026.

Bagi Prabowo, sepak bola bukan sekadar pertandingan olahraga, melainkan juga menjadi simbol kehormatan dan kebanggaan sebuah bangsa. 

"Bagaimana caranya masuk Piala Dunia? Saudara-saudara jangan anggap enteng sepak bola itu kehormatan ya," tegasnya. 

Dalam suasana yang disambut tawa para tamu undangan, Prabowo kemudian menuntut pertanggungjawaban Menpora Erick Thohir yang selama ini turut berperan dalam pembinaan sepak bola nasional.

Dia pun turut menyebut nama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan mempertanyakan cara apa yang bisa ditempuh agar Indonesia lolosa Piala Dunia.

"Siapa bertanggung jawab? Mana Erick Thohir? Menteri BUMN. Boy, kasih tahu adikmu ya. Aduh aduh aduh. Mana Menteri Keuangan? Apa yang diperlukan supaya kita bisa masuk Piala Dunia?" ujar Presiden.

B50 merupakan bahan bakar hasil pencampuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dengan 50 persen solar. 

Implementasinya mengacu pada Permen ESDM Nomor 4 Tahun 2025 tentang Pengusahaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati serta Kepmen ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026. 

Selain diproyeksikan memangkas emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton CO2, pemerintah juga memperkirakan program ini mampu menghemat devisa sekitar Rp170 triliun pada 2026, meningkatkan nilai tambah industri crude palm oil (CPO) menjadi sekitar Rp23,49 triliun, serta menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA