Sikap tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri, Kerja Sama Internasional, dan Komunitas Republik Guinea-Bissau, Fatumata Jau kepada Menteri Luar Negeri, Kerja Sama Afrika, dan Diaspora Maroko, Nasser Bourita di Rabat, Senin, 29 Juni 2026.
Jau menegaskan bahwa posisi negaranya tetap konsisten mendukung Maroko dalam isu Sahara yang selama ini menjadi perhatian diplomatik internasional.
“Sikap teguh dan tak tergoyahkan Guinea-Bissau dalam mendukung integritas teritorial dan kedaulatan Maroko atas seluruh wilayahnya, termasuk wilayah Sahara,” ujar Jau.
Menurutnya, rencana otonomi yang diajukan Kerajaan Maroko merupakan opsi paling kredibel dan realistis untuk mencapai penyelesaian yang berkelanjutan.
“Rencana otonomi yang diajukan oleh Kerajaan sebagai satu-satunya solusi yang kredibel dan realistis untuk menyelesaikan perselisihan buatan ini," tegasnya.
Jau turut menyoroti pembukaan Konsulat Jenderal Guinea-Bissau di Dakhla pada Oktober 2020. Langkah diplomatik tersebut menjadi bukti kuat eratnya kemitraan antara kedua negara sekaligus mencerminkan dukungan terhadap momentum internasional yang digagas Raja Mohammed VI dalam memperkuat pengakuan atas kedaulatan Maroko di Sahara.
Dalam kesempatan yang sama, Menlu Guinea-Bissau itu menyambut baik adopsi Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2797 yang menempatkan rencana otonomi di bawah kedaulatan Maroko sebagai dasar bagi terciptanya solusi yang adil, langgeng, dan dapat diterima oleh seluruh pihak dalam sengketa tersebut.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: