Pendiri Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Prof. Didik J. Rachbini menuturkan, kebijakan ekonomi Pemerintah masih belum menjadikan potensi pengembangan utama.
"Memang kita tidak sama sekali mengabaikan sektor luar negeri dan tetap ada kegiatan dan dunia usaha yang melakukan mengekspor, menarik FDI (Foreign Direct Investment) dan melakukan hilirisasi," tutur dia kepada
Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL, Senin, 10 Agustus 2026.
"Masalahnya adalah sektor luar negeri belum dijadikan mesin utama transformasi struktural dan industrialisasi," sambung Prof. Didik.
Rektor Universitas Paramadina itu memandang, kebijakan ekonomi Indonesia masih terlalu berorientasi ke pasar domestik, substitusi impor, penguasaan sumber daya, dan konsumsi domestik.
"Karena itu harus diubah menjadi kebijakan sebaliknya, yang mempenetrasi pasar internasional dengan daya saing industri yang kuat, orientasi ekspor, memanfaatkan investasi dan supply changes global," ujarnya.
Oleh karena itu, Prof. Didik meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan lebih tinggi dari yang dicapai sekarang, yaitu rata-rata tiap tahun di kisaran 5 persen, apabila kebijakan yang diandalkan masih berorientasi dalam negeri
"Hanya dengan memperhitungkan kembali sektor luar negeri dengan kebijakan yang baik, maka tingkat pertumbuhan lebih tinggi bisa diwujudkan," demikian Prof. Didik menambahkan.
BERITA TERKAIT: