Di hadapan kalangan akademisi, peneliti, dan pelaku industri, Kepala Negara menilai usulan tersebut menarik, meski implementasinya harus mempertimbangkan kondisi keuangan BUMN yang kini masih dalam proses pembenahan.
“Tadi juga usul sektor industri... biaya riset, diusulkan agar tiap BUMN mengalokasikan sebagian laba mereka untuk riset dan inovasi. Ini bagus usulnya. Masalahnya, BUMN-BUMN ini ada labanya enggak?" ujar Prabowo di acara Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) 2026 di Jakarta, dikutip Senin, 29 Juni 2026.
Prabowo kemudian menyinggung langkah restrukturisasi besar-besaran yang tengah dijalankan pemerintah terhadap perusahaan-perusahaan pelat merah.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk memangkas inefisiensi, menyederhanakan struktur organisasi, serta memastikan setiap BUMN memiliki kontribusi nyata terhadap perekonomian nasional.
“Dari 1000 lebih BUMN, sekarang kita sudah tutup lebih dari 200. Lebih dari 200. Nantinya kita akan bikin tinggal 300 lah, ya. Gimana Pak Erick? Pak Erick Thohir, ujungnya kita bisa berapa BUMN? Ujungnya nanti 250," ujarnya.
Menurut Prabowo, keberadaan perusahaan yang tidak menghasilkan keuntungan hanya akan membebani keuangan negara karena sebagian besar sumber daya habis untuk membiayai struktur birokrasi dan operasional yang tidak produktif.
"Bayangkan, lebih dari 750 kita tutup. 750 Dirut, 750 Direksi kali 4 atau kali 5, 750 Komisaris kali 10. Overhead-nya kayak apa, gajinya kayak apa saudara-saudara,” kata Prabowo.
Karena itu, pemerintah berkomitmen melanjutkan konsolidasi BUMN sebagai bagian dari reformasi tata kelola perusahaan negara.
“Kita mau sekarang rasional, efisien, dan ini kita buktikan, dan ini kita lakukan. Saya minta dalam tahun ini harus selesai, ya. Jadi dalam dua tahun kita akan bikin BUMN-BUMN lebih efisien, lebih transparan, lebih bekerja untuk rakyat,” tegasnya.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: