Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia (ASI), Ali Rif'an mengamati perkembangan situasi politik terkini mulai menghangat, terutama ketika dimunculkan isu PDIP tidak tegas dalam memilih jalan politik karena memakai istilah mitra penyeimbang pemerintah bukan oposisi.
Menurut Ali, hal itu dikarenakan cerita perjalanan politik Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan Presiden Prabowo yang juga Ketua Umum Partai Gerindra, terbilang rukun hingga saat ini.
"Meskipun harus diakui, posisi PDIP itu dilema, karena hubungan Ibu Mega dengan Pak Prabowo selama ini baik. Beda dengan zaman SBY (Susilo Bambang Yudhoyono Presiden ke-6 RI) yang saat itu hubungannya tidak baik," tutur Ali kepada
RMOL di Jakarta, Kamis, 25 Juni 2026.
Magister ilmu politik Universitas Indonesia (UI) ini menilai, pola hubungan dan posisi saat ini dijalankan PDIP untuk satu hal. Yakni, memastikan pengaruh Jokowi tidak begitu kuat terhadap Presiden Prabowo dan termasuk pemerintahan yang dipimpinnya.
"Di saat bersamaan, mungkin bisa dibenarkan bahwa posisi PDIP masih berusaha adu pengaruh dengan 'Solo'," ujarnya.
Bahkan, Ali memperkirakan peluang partai berlambang banteng moncong putih ini masuk kabinet sangat memungkinkan, mengingat mulai beredar isu Reshuffle akan dilakukan kembali oleh Presiden Prabowo.
Akan tetapi, dia meyakini PDIP baru akan bergabung sebagai koalisi pemerintahan Presiden Prabowo jika pengaruh Solo diakhiri, sehingga noktah merah yang dibuat Jokowi saat Pilpres 2024 lalu menjadi terbayarkan.
"Mungkin saja masih ada peluang PDIP masuk pemerintahan asalkan 'pengaruh Solo' pada Presiden Prabowo dilepas," jelasnya.
"Karena sejauh ini, baik Ibu Mega dan kader-kader PDIP lainnya, bencinya dengan Jokowi, bukan dengan Prabowo. Artinya, PDIP khawatir jika benar-benar jadi oposisi dan menjauh dari Prabowo, nanti yang dominan adalah "Geng Solo," demikian Ali menambahkan.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: