Ketua Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (PP Hima Persis) Bidang Ekonomi, Fakhrizal Lukman menilai, tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan domestik yang memicu kekhawatiran terhadap kenaikan harga berbagai kebutuhan masyarakat.
"Saat nilai dolar Amerika Serikat meningkat, biaya impor menjadi lebih mahal bagi pelaku usaha dan berpotensi diteruskan ke harga jual barang tingkat konsumen. Jadinya, masyarakat harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk membeli barang yang dibayar dengan dolar," kata Fakhrizal dalam keterangannya, Minggu 17 Mei 2026.
Fakhrizal melihat komoditas pangan menjadi sektor yang paling cepat terdampak. Indonesia masih mengimpor berbagai bahan pangan penting mulai dari gandum, kedelai, bawang putih, susu, hingga bahan baku industri makanan. Gandum dan kedelai, menurutnya, menjadi yang paling rentan karena ketergantungan pada pasokan luar negeri masih sangat tinggi.
Ia mengungkapkan, harga bahan baku impor di tingkat produsen sebenarnya sudah naik sejak akhir April 2026.
"Ketika dolar menguat, biaya pembelian dari luar negeri otomatis menjadi lebih mahal bagi importir dan pelaku usaha, sehingga biaya produksi industri pangan ikut meningkat dalam waktu singkat," kata Fakhrizal.
Kenaikan biaya itu, ia tegaskan, berisiko diteruskan ke konsumen dalam beberapa bulan ke depan jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.
Dampak pelemahan rupiah, lanjut Fakhrizal, tidak hanya terasa dari produk impor langsung. Makanan olahan yang menggunakan bahan baku impor juga berisiko mengalami kenaikan harga.
"Kenaikan harga gandum, misalnya, dapat memengaruhi harga roti, biskuit, mie instan, hingga pakan ternak," kata Fakhrizal
Tidak hanya terjadi di sektor pangan, hal ini pun terjadi pada sektor elektronik, farmasi hingga otomotif pastinya ikut terdampak karena ketergantungan kita pada produk luar negeri di sektor tersebut masih tinggi.
BERITA TERKAIT: