Menurut pengamat militer dan intelijen Susaningtyas NH Kertopati, Islamabad sebagai ibu kota Pakistan sangat tepat dipilih sebagai lokasi perundingan. Pakistan sendiri terbilang sukses sebagai mediator kedua belah pihak.
“Pakistan memiliki hubungan diplomatik yang unik dan terpercaya, mampu berdialog dengan Washington (AS) sekaligus menjaga komunikasi dengan Teheran (Iran). PM Pakistan Shehbaz Sharif dan Panglima Militer Jenderal Asim Munir memainkan peran kunci sebagai perantara aktif, di saat jalur diplomatik formal terputus,” kata Nuning akrab disapa dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Sabtu malam, 11 April 2026.
Lanjut dia, Pakistan dianggap sebagai negara netral dan memiliki pengaruh geopolitik. Selain itu, Pakistan dianggap sebagai tempat yang cukup strategis.
“Iran adalah tetangga terdekat, sementara AS adalah mitra strategis dalam isu-isu tertentu. Kepercayaan dari kedua belah pihak ini jarang dimiliki negara lain. Islamabad dipandang berhasil memfasilitasi komunikasi darurat yang menghasilkan kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua minggu yang diumumkan oleh AS dan Iran untuk mencegah eskalasi perang lebih luas,” jelasnya.
Mantan Anggota Komisi I DPR itu menyebut Pakistan memiliki pengalaman diplomatik yang panjang. Pakistan sering kali berhasil menjadi penengah dalam krisis regional, menjadikan ibukotanya tempat yang aman dan kondusif untuk perundingan sensitif.
“Pertemuan di Islamabad menggunakan format di mana delegasi AS dan Iran tidak langsung bertatap muka, melainkan berada di ruangan terpisah. Di mana pejabat Pakistan menyampaikan proposal satu sama lain, serupa dengan perundingan yang dimediasi Oman sebelumnya. Pemerintah Pakistan menetapkan Islamabad sebagai zona aman (red zone),” tutur Nuning.
“Perlu digarisbawahi bahwa merupakan permintaan khusus Pakistan soal keterlibatan JD Vance, Wapres Amerika karena dinilai lebih akseptabel dalam perundingan, mengingat sikap awalnya yang menentang operasi militer AS-Israel terhadap Iran,” tambahnya.
Vance memimpin delegasi yang mencakup utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner, menandai pembicaraan tatap muka tertinggi sejak 1979.
“Menurut saya, keberhasilan gencatan senjata dan setelahnya hanya bisa dicapai bila semua pihak berperang dan sekutunya sepakat menyudahi perang,” bebernya.
Masih kata Nuning, Iran nampaknya masih ragu bahwa perundingan damai ini dapat menghentikan perang. Iran tetap menyiapkan rudal ganda sebagai tanda tidak yakin AS-Israel patuh pada aturan gencatan senjata.
Beberapa hal penting mengenai situasi Selat Hormuz per 11 April 2026 bahwa
Trump menegaskan komitmen untuk membuka jalur maritim vital ini secepatnya.
Sementara itu kondisi Iran sempat mengindikasikan akan memungut biaya atau membatasi akses, namun gencatan senjata diharapkan memulihkan lalu lintas.
“Sejauh ini ada tanda-tanda pemulihan seperti yang disampaikan Wakil Presiden AS JD Vance mencatat peningkatan aktivitas pelayaran awal sebagai tanda positif pemulihan yang mulai menurunkan harga minyak,” ungkapnya lagi.
JD Vance menekankan fokus negosiasi pembicaraan damai di Pakistan pada penghentian konflik permanen, dengan pembukaan selat sebagai syarat utama AS.
“Jika pembicaraan bisa menghentikan perang, geopolitik dunia pun dipastikan akan terjadi pergeseran yang mempengaruhi pola geoekonomi dunia,” pungkas Nuning.
BERITA TERKAIT: